Selasa, 10 Maret 2009

Jelang Pemilu 2009

Bahan Logistik Pemilu Tiba di KPU Tapteng
Sebahagian Kertas Suara Rusak
Pandan, Batak Pos
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupten Tapanuli Tengah akhirnya menerima bahan logistik dari KPU Pusat dan Provinsi Sumatera Utara. Ada pun bahan logistik yang baru diterima KPU Tapteng ini adalah, segel kertas suara sebanyak 31.414 keping, tinta 1.013 botol, surat suara DPR-RI sebanyak 192.684 lembar, surat suara DPRD Provinsi sebanyak 192.684 lembar, ditambah dengan surat suara DPD sebanyak 192.684 lembar. Selain itu juga KPU Tapteng menerima Formulis C4 sebanyak 12 buah, Formulir A5 1buah, spidol 5 buah dan gembok 9 buah.
Demikian disampaikan Firman Lubis SH selaku Devisi Humas KPU Tapteng kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (10/3). “Kita menerima bahan logistik ini secara bertahap, jadi tidak serentak, seperti kertas suara DPR-RI dan DPD kita terima sekitar 10 hari yang lalu, sedangkan untuk DPRD Provinsi sekitar 1 Minggu yang lalu,”jelasnya.
Disinggung tentang kondisi surat suara yang sudah tiba Firman mengakui, bahwa pihaknya ada menemukan kertas suara yang rusak, seperti sobek atau tidak jelas tulisannya, hanya saja pihaknya belum dapat merincikan berapa banyak kertas suara yang rusak tersebut, karena saat ini sedang dapam proses pelipatan.
“Memang kita menemukan beberapa kertas suara yang rusak, baik itu dari DPR-RI, DPD dan juga DPRD Provinsi, namun kita belum dapat memastikan berapa jumlahnya, karena saat ini masih dalam proses pelipatan. Jika proses pelipatan sudah selesai baru dapat kita pastikan berapa kertas suara yang rusak untuk kita laporkan ke KPU Pusat dan Provinsi,”jawabnya.
Firman juga menambahkan, ada pun jumlah kertas surat suara khusus DPRD Tapteng sebanyak 192.684 lembar dengan perincian: Dapil I 47.724 lembar, Dapil II 44.376 lembar, Dapil III 48.571 lembar, dan Dapil IV 51.911 lembar.
Lebih lanjut dijelaskan Firman, pihaknya harus bekerja keras untuk menyalurkan kertas suara tersebut ke wilayah Tapteng, dimana Tapteng memiliki 20 Kecamatan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku, 10 hari sebelum hari pelaksanaan, kertas suara sudah tiba di masing-masing TPS. “Untuk mengantisipasi hal itu KPU Pusat sudah mengadakan kerjasama dengan pihak TNI Polri untuk membantu menyalurkan barang logistik atau kertas suara ini ke masing-masing TPS. Artinya dengan adanya kerja sama ini, maka TNI Polri akan bekerjasama dengan KPU Daerah untuk menyalurkan surat suara ini sampai ke TPS masing-masing. Atas dasar itulah kita berusaha sepuluh hari sebelum hari pelaksanaan, semua bahan logistik dan kertas suara sudah akan tiba dimasing-masing TPS,”katanya.
Sementara itu hasil amatan koran ini di kantor KPU Tapteng, masyarakat Pandan tampak ramai memenuhi pelataran kantor KPU Tapteng, karena warga setempat ini mendapat pengasilan tambahan dari hasil melipat kertas. (Jason Gultom)

Melirik Lebih Dekat Keberadaan Hutan Batang Toru

Hutan Batang Toru Harta Karun Tapanuli
Nilai Total Ekonomi Rp 3,6M/Tahun
Taput, Batak Pos
Hutan Batang Toru adalah harta karun Tapanuli. Hutan ini memiliki kekayaan alam yang masih perawan (virgin forest). Hutan Batang Toru ini memiliki dua kawasan hutan, yakni Hutan Dolok Ginjang (HDG) seluas 8.223.837ha dan Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB) seluas 18.262,35ha di Kecamatan Adian Koting (45762.70ha) yang merupakan dua kawasan penting. Hutan Dolok Ginjang merupakan habitat utama Hariamu Sumatera yang masih tersedia. Sedangkan Hutan Batang Toru Blok Barat menyimpan 67 jenis mamalia, 287 jenis burung, 110 jenis herpetofauna dan 688 jenis tumbuhan. Berdasarkan status konservasinya, terindikasi 20 spesies di dalam status terancam, utamanya habitat orangutan dan Harimau Sumatra yang masih ada di kawasan Tapanuli.
Di kawasan HBTBB terdapat 60 sub DAS (Daerah Aliran Sungai) dengan total luasan daerah 211,690 ha dimana sub DAS terbesarnya dalah sub DAS Pinangsari seluas 9,209 ha yang memiliki perimeter sepanjang 66,113 meter dan sub Das terkecilnya dalah Sialang dengan luas hanya 301.8ha dan perimeter sepanjang 14,959 meter.
Menurut penjelasan Monang Ringoringo selaku Ketua PETRA (Perkumpulan Pengembangan Partisipasi Untuk Rakyat) kepada koran ini baru-baru ini menjelaskan, berdasarkan Dokumen Conservation International (2006) menyimpulkan, total nilai ekonomi nilai guna tak langsung Hutan Batang Toru, seperti untuk penahan bencana, pengatur air, pencegah erosi sebesar Rp69.212.225.920 per tahunnya, dan total nilai guna langsung berupa hasil hutan kayu, pariwisata, PLTA, PLTP tambang emas mencapai Rp3.563,078,680,128 per tahunnya. Sehingga nilai total ekonomi kawasan Hutan Ekosistem Batang Toru sebesar Rp3.632.290.906,48 per tahun.
Kawasan HBTBB juga merupakan pemukinan 53 Desa di 10 Kecamatan yang berada di 3 Kabupaten yang merupakan kawsan ulayat dari suku Batak Toba, Mandaling dan Angkola. Keberadaan spesies kunci dalam kawasan HBTBB dan hutan Dolok Ginjang sebagai indikator dari adanya kekayaan keanekaragaman hayati. Sehingga areal tersebut mejadi penting dari sisi konsrevasi keanekarangman hayati yang masih ada. Keberadaan dua spesies ini juga berpotensi pula menimbulkan konflik manusia-satwa yang serius sehingga diperlukan membuat suatu kajian bersama masyarakat untuk menyatakan kedua kawasan tersebut dengan koridor penghubung, agar gerak dan jelajah dari berbagai jenis satwa tidak terganggu dikemudian hari.
“Berdasarkan data yang yang kita himpun dan data ground chek, di kawsan Hutan Dolok Ginjang, terdapat konsesi PT TPL di kawsan Dolok Ginjang, di enam desa yang berbatasan dengan HBTBB, dimana salah satu hulu Aek Sipansihaporas di Desa Adiankotong dan Desa Sibalanga. Akibat rendahnya nilai penghasilan dan tekanan ekonomi, beberapa masyarakat ikut tergiur melakukan penebangan kayu hutan kepada agen kayu atau dijual untuk kayu bakar dan juga untuk bahan papan bangunan. Dampak dari konsesi PT TPL setelah beroperasi kembali menimbulkan degradasi hutan yang cukup memperihatinkan di bagian Utara dan Timur hutan Register 18,”jelasnya.
Ia juga menegaskan, di dalam kawsan HBTBB terdapat 3 industri destruktif (PT TPL, PT Teluk Nauli dan Agicourt), yang sangat berdampak pada kondisi pelestarian habitat orangutan, Harimau Sumatera, kondisi tutupan hutan, yang kesemuanya memberikan dampak negatif bagi sumber penghidupan manusia yang bermukim di tepi hutan, serta 2 industri yang membutuhkan kelestarian hutan dan sungai, seperti PLTP PT Medco dan PT PLN di Sipansihapora Tapteng dan Aek Raisan.
Tumpang Tindih Penataan Kawasan
“Di kawasan HBTBB ini ditemukan beberapa permasalahan tumpang tindah penataan kawasan diantaranya, kawasan yang ditetapkan sebagai hutan lindung seluas 7.800 ha didalam HBTBB ternyata bertumpang tindah dengan kawasan eksplorasi pertamabgan emas dan perak. Adanya tumpang tindah tanah pengguna masyarakat dengan kawasan huta seluars 32.573ha, serta kawasan hutan lindung yang bertumpang tindah dengan kawasan eksplorasi/eksploitasi geothermal, yang rencananya akan dibangun menjadi Pembangkit Listrik Tenga Panas Bumi,”ungkap Ringoringo
Lebih lanjut ia membeberkan, sesuai dengan hasil overlay yang dimasukkan ke dalam peta GIS, ternyata konsesi PT TPL dan PT Teluk Nauli tumpang tindih, padahal dikeluarkan pada tahun yang sama. HPH PT Teluk Nauli (blok Anggoli) seluas 83.000ha, dalam hutan alam dari perusahaan PMDN berdasarkan SK.414/Kpts-II/2004 tetanggal 19 Oktober 2004, dan PT TPL dengan konsesi seluas 269.060 ha sesuai dengan SK.351/Menhut-II/2004 tertanggal 28/9/2004. Jika diamati dari berbagai data perijinan yang berlaku, ternyata tumapang tindihnya kawasan tersebut akibat dari kesalahan urus kawasan hutan oleh Pemprovsu dan Dinas Kehutan (BPKH)/Dinas Kehutan Provinsi dan Kabupaten, hingga Pemerintah Pusat melalui Menteri Kehutanan RI. Dimana titik sentral kasus ini pasti berasal dari elit pemerintah Pusat RI. “Untuk itu kami meminta agar pemerintah mencabut indsutri destruktif di kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat,”tegasnya. (Jason Gultom)

Senin, 09 Maret 2009

Agama

Ephorus Lutheran Belanda Bertemu Dengan Tokoh Agama Tapteng
Pandan, Batak Pos
Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church Ilona Fritz, Sekretarisnya Coby, mantan Dosen Sekolah Tinggi Theologi (STT) Pematangsiantar, Saparini Siregar beserta rombongan bertemu dengan tokoh agama Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) di ruangan Cendrawasih Kabupaten Tapteng, Sumatera Utara, Sabtu (14/2).
Pada pertemuan tersebut, Ilona Fritz selaku Ephorus dari Negara Belanda itu mengatakan tujuan mereka datang dan bertemu dengan tokoh agama di kabupaten Tapteng karena ingin melihat kehidupan umat beragama di kabupaten Tapteng yang rukun dengan berbeda agama, juga ingin berbagi pengalaman dengan para tokoh agama.
“Saya dan keluarga tinggal di Amsterdam Negara yang kebanyakan penduduknya kebanyakan pendatang dari berbagai Negara, seperti Suriname, Afrika, Asia dan Negara bagian Timur. Kami hidup bersama dengan menghadapi berbagai budaya dan agama dan kami membangun gereja, masjid dan tempat beribadah agama budha dan agama lainnya,” tuturnya menggunakan bahasa Inggris yang diterjemahkan penerjemahnya J Matondang.
Dikatakannya, berbeda pada tahun 2002 lalu, dimana salah satu pesawat jatuh ke Negara Amerika dan membuat banyak orang meninggal dunia dari berbagai agama yang berbeda, sehingga membuat konflik baru di Negara-negara Eropa.
“Pada saat itu kita sama-sama berduka, membantu dengan sama-sama membangun perkumpulan. Selain itu, juga kita ketahui ada berbagai konflik di seluruh dunia, seperti konflik di Israel, Afganistan dan konflik dibeberapa kota lainnya. Dan kedatangan kami kesini untuk melihat langsung bagaimana kerukunan umat beragama dapat terjalin dengan berbeda budaya dan agama di Indonesia khususnya Tapteng,” jelasnya.
Amatan Batak Pos pada pertermuan tersebut, antara rombongan Ephorus dari Belanda tersebut, bertukar pengalaan dengan para tokoh agama di Kabupaten Tapteng untuk dapat menjadi masukan menerapkan kerukunan beragama, dengan kondisi penduduknya yang beragam budaya, suku dan agama.
Sementara itu, Pdt Sutoyo Virajayo SAg perwakilan dari agama Budha yag ada di Sibolga-Tapteng mengatakan, meskipun berbagai agama, budaya dan suku ada di Sibolga-Tapteng, namun kerukunan umat beragama terjalin dengan baik.
“Hal tersebut, terlihat pada saat perayaan hari-hari besar agama Budha masyarakat yang beragama Islam dan Kristen bersama-sama dengan kami memasak dan menghidangkan masakan yang disantap bersama-sama. Selain itu, meskipun di kota Sibolga ini hampir 95 persen umat Budha tersebut, dari etnis Cina dan 5 persen lagi dari suku jawa, batak dan lainnya,” jelas Pdt Sutoyo sembari mengatakan sudah bertugas di Sibolga-Tapteng selama 22 tahun sejak tahun 1987 sampai 2009.
Dikatakannya, berhimpunnnya pimpinan agama di FKUB, kerukunan umat beragama dapat selalu terjalin, karena setiap ada masalah dapat diselesaikan dengan cara musyawarah.
Pdt Maringan Simamora, STh selaku Ketua Badan kerjasama Antar Gereja (BKAG) wilayah Tapteng mewakili umat Kristen mengatakan, pengalaman terjalinnya kerukunan agama di Kabupaten Tapteng, karena masih adanya ikatan keluarga dan masih menganggap satu rumpun atau kampung tanpa membicarakan apa agama yang dianut.
“Masing-masing agama mempunyai kebenaran menurut penganutnya. Harapan kita dengan duduk bersama pemuka agama juga dapat membuat duduk bersama para umat beragama,” katanya.
Sementara itu, ketua MUI Tapteng, Ngadiman KS mewakili umat Islam menjelaskan bahwa Islam adalah rahmatan lilalamin, dimana dalam menjalin kerukunan umat beragama, umat Islam tidak pernah mencampuri agama lain, sehingga dari dulu kekeluargaan dan kerukunan umat beragama yang berbeda tetap terjalin.
“Sebenarnya, tidak dipungkiri bahwa budaya perpecahan yang sampai saat ini masih terjadi di Indonesia merupakan budaya peningggalan Negara Belanda pada saat menjajah Indonesia yang disebut dengan pecaha belah dan kuasai (Devide et Impera),” katanya.
Turut memberikan pengalaman dan masukan akan kerukunan umat beragama yang terus terjalin di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tapteng, yakni kepala kantor Departemen Agama kabupaten Tapteng, Drs Dur Brutu, dan mewakili GAMKI Tapteng.
Mendengar keterangan para tokoh agama di Kabupaten Tapteng, Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church, Mrs Ilona menurutkan, bahwa dengan terpilihnya Barack Obama Husein sebagai presiden Amerika Serikat dapat membawa kebiasaan baru di Negara-negara Eropa yang selama ini memandang nama berbau Islam dianggap teroris.
Menurutnya, semua orang hidup dalam kebebasan dengan berbagai budaya, agama dan suku dan usai perang dunia II (kedua) Negara Belanda banyak berubah dengan banyaknya kebudayaan dan agama. “Saya senang dapat ide-ide untuk menjalin kerukunan beragama yang harus dimulai dari bawah. Kami di Amsterdam juga hidup damai dari berbagai agama dan kebudayaan dan berharap terjalinnya kerukunan bergama merupakan perjalanan panjang yang harus dilakukan,” ujarnya.
Usai saling tukar pengalaman untuk menjalin kerukunan beragama antara kedua Negara yakni Indonesia dan Belanda, Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church bersama rombongan di ulosi sebagai tanda kerukunan umat beragama di Tapteng masih erat, sekanjutnya rombongan Ephorus foto bersama dengan para tokoh agama di depan kantor Bupati Tapteng. (Jason Gultom)
Keterangan Foto
Ephorus Lutheran Belanda Diulosi
Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church Ilona Fritz foto bersama dengan Wakil Bupati Tapteng usai diulosi pada pertemuan diskusi kerukunan umat beragama. Menurut Ephorus Gereja Lutheran Belanda ini, ia salut atas kehidupan kerukunan umat Beraga di Indonesia khususnya di Tapteng. (Batak Pos/Jason Gultom)

Kabar Gembira


Pemkab Tapteng Buka Lowongan Perawat PTT
Tapteng, Batak Pos
Ini adalah kabar gembira bagi tenaga kesehatan khususnya bidang keperawatan. Dimana Departemen Kesehatan (Dekes) RI akan memberikan peluang bagi tenaga keperawatan lulusan Diploma Tiga (D3) dan S1untuk direkrut menjadi tenaga PTT (Pegawai tidak tetap). Demikian disampaikan Kadis Kesehatan Pemkab Tapteng, Hajopan Simanjuntak SKM pada acara peresmian Puskesmas di Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu(25/2).
Menurut Kadis, surat penerimaan tenaga PTT keperawatan telah dikirimkan dari Dekpes RI ke Pemkab Tapteng, selanjutnya Pemkab Tapteng memberikan usulan penerimaan tenaga PTT untuk wilayah Pemkab Tapteng ke Depkes. “Setelah kita menerima surat pemberitahuan tersebut, kita langsung kirimkan surat usulan penerimaan untuk wilayah Pemkab Tapteng. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada surat persetujuan dari Depkes,”katanya.
Dengan dibukanya peluang ini lanjut Hajopan, maka laju pembangunan khususnya dibidang kesehatan di Tapteng ini akan terus meningkat. Karena banyak putra-putri dari daerah ini yang berpendidikan keperawatan tidak memiliki kesempatan untuk mengabdi sebagai tenaga medis karena tidak adanya peluang.
“Selama ini yang diberikan pemerintah peluang untuk PTT adalah bidan dan dokter, dan baru kali ini ada terobosan yang meberikan kesempatan yang sama kepada tenaga perawat. Kita sangat menyambut baik dengan peluang yang diberikan pemerintah pusat ini. Saya berjanji setelah keluar surat persetujuan dari Depkes, maka putra-putri bapak yang memiliki pendidikan D3 dan S1 keperawatan agar segera mendaftar, karena kita sangat mengutamakan putra-putri daerah kita ini,”sebut Hajopan yang disambut tepuk tangan masyarakat Kecamatan Pasaribu Tobing yang menghadiri acara peresmian pengoperasian Puskesmas Pasaribu Tobing.
Pada kesempatan itu juga, Dinas Catatan Sipil Kependudukan dan Keluarga Berencana Pemkab Tapteng turut hadir untuk meberikan bantuan bagi masyarakat Kecamatan Pasaribu Tobing. Ada pun bantuan yang diberikan langsung oleh Budiman Ginting SH selaku Kadis Capil Kependudukan dan KB berupa alat KB IUD (khusus untuk perempuan dan alat KB Pasectomy (khusus laki-laki). (Jason Gultom)

Pendidikan Itu Memang Mahal

Sebanyak 1.884 Perserta Ikuti Seleksi Masuk UI di Tapteng
Pandan, Batak Pos
Keseriusan Pemkab Tapteng untuk meningkatkan mutu pendidikan semakin nyata. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerjasama antara Pemkab Tapteng dengan Universitas Indonesia (UI) untuk melaksanakan seleski ujian masuk UI yang diselenggarakan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Minggu (1/3) sebanyak 1.884 orang putra-putri Sumatera Utara (Sumut) adu kemampuan untuk dapat lolos menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Sebanyak 7 sekolah menjadi tempat perserta melaksanakan ujian, diantaranya, SMA Negeri 1 Matauli Pandan, SMP Al Muslimin, SMP Negeri 1 Pandan, SMP Negeri 2 pandan Nauli, SD Fransiskus , SMP Fransiskus dan SMA Fransiskus.
Dari 1.884 pendaftar yang mengikuti ujian test masuk UI ini, sebanyak 2 orang peserta mengikuti program S2 dan S3. Sedangkan tim pemantau materi ujian dari Universitas Indonesia diturunkan sebanyak 7 orang, terdiri dari Ebi Junaidi selaku Kordinator, Anondo Wijanarko, Budi Sudiarto, Eka Putra Pratama, Encim Sutisna, Rukhyat dan Sudarmaji, masing-masing anggota.
Sementara itu menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan, Drs Sumartono selaku panitia lokal didampingi Kabid SMP Dinas Pendidikan Tapteng, Drs Kolose Harahap kepada Batak Pos, Sabtu (28/2) mengatakan, diselenggarakannya seleksi masuk UI ini atau yang lebih dikenal dengan (SIMAK-UI) di Kabupaten Tapteng, karena hubungan dan kerjasama yang baik antara Pemkab Tapteng dengan UI serta kemitraan di bidang Pendidikan.
“Ini tidak terlepas dari upaya Bupati kita, Drs Tuani Lumbantobing untuk meningkatakan pendidikan di Tapteng ini. Jadi, dengan adanya kerjasama ini Pemkab Tapteng telah membantu putra-putri Tapteng secara khusus dan umumnya Sumatera Utara, karena mereka tidak perlu jauh-jauh lagi berangkat ke Jakarta hanya untuk mengikuti ujian. Dengan diseleggarakannya SIMAK-UI di Tapteng ini sudah lebih irit biaya,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, kerjasama Pemkab Tapteng dan UI juga diteruskan SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan yang terkait dengan tempat pelaksanaan SIMAK-UI. “Kalau selama ini ada tanggapan yang menyebutkan kuliah di UI hanyalah orang-orang tertentu yang mampu dari segi materi, dengan diselenggarakannya SIMAK-UI yang berlokasi di Tapteng semua putra-putri Sumut bisa menimbah ilmu di UI asalkan dapat lolos dalam seleksi ini,” ujarnya.
Sementara itu menurut Drs Kolose selaku Kabid SMP Dinas Pendidikan Tapteng menyebutkan, jika dipandang dari aspek pendidikan, maka seleksi ini dapat memotivasi para pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di UI, dan juga dapat menjadi uji coba profesionalisme guru di daerah Kabupaten Tapteng ini. “Ini menjadi barometer kedepan, dengan suksesnya pelaksanaan ujian ini tidak tertutup kemungkinan Universitas lainnya seperti UGM dan universitas terkenal lainnya akan melakukan hal yang sama nantinya. Kita berharap agar pelaksanaan SIMAK-UI ini dapat berlangsung dengan baik,”harapnya.
Ditanya berapa jumlah pengawas yang dilibatkan dalam pelaksaan ujian ini, ia mengatakan, panitia telah mempersiapkan 190 lebih guru yang berpendidikan Sarjana yang ada di Tapteng
Sementara itu menurut Ebi Junaidi selaku kordinator tim pemantau materi ujian UI mengatakan, jumlah yang akan diterima dari SIMAK-UI ini lebih banyak dari system perekrutan lainnya, yakni sebesar 56 persen dari jumlah kuota keseluruhan mahasiswa yang akan diterima di UI.
Ia menambahkan, sistem SIMAK-UI dilaksanakan serentak di 35 kota di Indonesia ditambah 1 di Kualalumpur, dengan jumlah pendaftar mencapai 80 ribu orang.
Untuk menjaga keamanan peserta ujian, Panitia telah bekerja sama dengan Pihak Polres Tapteng, Satpol PP, Dishub Tapteng. Khusus untuk tenaga polisi, Polres Tapteng menurunkan 100 orang personilnya yang ditempatkan di penginapan, hotel, dan tempat-tempat pelaksanaan ujian. (Jason Gultom)

Bagaimana Nasib Protap???


Gagasan Pembentukan Protap Bukan Sesuatu Yang Terlarang
Pandan, Batak Pos
Ditundanya pembahasan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) akibat aksi anarkisme yang terjadi di gedung DPRD Sumut beberapa waktu lalu, mendapat tanggapan serius dari Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Tapanuli (LKBH). Menurut Sanggam Tambunan SH selaku ketua LKBH Tapanuli menegaskan, bahwa gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) bukanlah sesuatu yang terlarang.
“Terwujudnya Propinsi Tapanuli murni aspirasi dari masyarakat Tapanuli, dan itu adalah hak masyarakat. Karena itu adalah aspirasi dari masyarakat, maka masyarakat yang menggagasi terbentuknya Protap harus dilindungi oleh hukum, bukan sebaliknya,”tegas Sanggam kepada Batak Pos saat ditemui di kantornya, Kamis (27/2).
Menurut Sanggam, kenyataan saat ini ada kecenderungan orang yang menggagasi pembentukan Protap ikut diseret-seret dalam peristiwa 3 Februari lalu. Seharunya orang yang melakukan peyimpangan sehingga terjadi aksi anarkis itulah yang harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negeri ini, bukan orang atau masyarakat yang menggagasi terbentuknya Protap ikut diseret-seret, karena gagasan pembentukan Protap bukan sesuatu yang salah, atau terlarang.
“Disinilah saya melihat sepertinya ada tekanan-tekanan politik dalam menyelesaikan aksi anarkisme yang terjadi di gedung DPRD Sumut Februari lalu. Kita setuju oknum-oknum yang melakukan aksi kekerasan itu harus ditindak tegas, karena apa pun alasannya tindakan itu tidak dapat dibenarkan, namun orang yang menggagasi pembentukan Protap justru harus dilindungi hukum, karena hak memisahkan diri dari satu Negara dilindungi hukum Internasional, apalagi ini hanya memsisahkan diri dari Propinsi. Jadi harus ada perlindungan hukum kepada mereka yang menggagasi pembentukan Propinsi Tapanuli,”tegasnya.
Untuk itu lanjut pria berkulit putih ini, aparat hukum harus bertindak secara provorsional dan profesional serta dapat membedakan mana tindakan yang terlarang dan mana tindakan yang harus dihormati secara hukum. “Saya hanya meminta dalam menyelesaikan persoalan ini jangan ada politisasi hukum, karena akan menimbulkan masalah yang lain,”harapnya.
Katakan Ya, kalau Ya, Katakan Tidak, Kalau Tidak!
Menurut Sanggam, terjadinya aksi anarkis di gedung DPRD Sumut bulan Feburai lalu karena ada yang tersumbat dan tarik menarik kepentingan dan wilayah. Seharunya DPRD harus mengambil sikap yang tegas tehadap aspirasi ini. “Seperti yang kita ketahui DPRD Sumut tidak memberikan jawaban tegas dalam menyikapi aspirasi pembentukan Protap ini, sehingga ada kekecewaan dikalangan masyarakat yang menginginkan pemekaran segera terwujud. Seharusnya DPRD harus berani memberikan jawaban ya kalau ya, tidak kalau tidak,”sebutnya.
Jangan Ada Anak Tiri dan Anak Kandung
Lebih lanjut Sanggam menilai, dialam reformasi saat ini seharusnya tidak ada lagi istilah anak tiri dan anak kandung. Namun, pada kenyataanya hal itu masih terjadi. “Sebagai contoh, ada beberapa wilayah yang meminta dimekarkan, dalam tempo yang tidak lama sudah terealisasi, sementara gagasan pembentukan Protap sudah lama disuarakan namun sampai saat ini belum terwujud justru ditunda. Seharunya pembahasan Protap harus terus dilaksanakan dan proses hukum terus lanjut. Disinilah kita melihat masih ada istilah anak tiri dan anak kandung itu,”kata Sanggam seraya mengajak agar para elit politik membaca buku karangan Lance Castles yang judulnya Politik Suatu Kesadaran di Sumatera: Tapanuli. (Jason Gultom)
Masyarakat Karo Sibolga Tapteng Sambut Kapolresta Sibolga Yang Baru

Mburo Ate Tedeh, itulah sebahagian adat masyarakat karo untuk menyambut tamu atau tokoh masyarakat Karo yang baru datang ke suatu daerah. Adat Mburu Ate Tedeh ini biasanya dirangkai dengan musik keyboard gendang karo dan penampilan penari sekaligus penyanyi karo yang dikenal dengan sebutan (Perkolong-kolong). Nuansa itulah yang terlihat saat ratusan masyarakat Karo yang berdomisili di Sibolga-Tapteng sewaktu menyambut kehadiran Kapolresta Kota Sibolga yang baru yaitu AKBP Jhony Sebayang bersama dengan isteri boru Taringan.
Acara penyambutan ini dilangsungkan di Gedung Hermina Sarudik, Minggu (8/3). Masyarakat Karo Sibolga-Tapteng yang jumlahnya sekitar 300 KK larut dalam suasana kekeluargaan saat menyanyikan tembang-tembang karo yang diikuti dengan lenggak lenggok tarian karo.
Pada pertemuan itu, pengurus merga (Marga) Silima yang ada di Sibolga-Tapteng menyampaikan ucapan selamat datang bagi Kapolresta Sibolga AKBP Jhony Sebayang yang merupakan putra terbaik masyarakat karo. Dalam sambutannya, Drs Ngalemi Sembiring Brahmana yang merupakan salahsatu pengurus Merga Silima Sibolga-Tapteng didampingi Benyamin Taringan yang juga Kadis Perindag Kota Sibolga mengucapkan selamat datang kepada Kapolres AKBP Jhony Sebayang yang baru bertugas di Sibolga.
“Kami masyarakat karo yang ada di Sibolga-Tapteng ini menyambut kehadiran orangtua kami bapak Kapolresta beserta dengan ibu. Kami masyarakat karo yang ada di dua daerah ini siap mendukung kinerja pak Kapolresta, dan kami juga sangat mengharapkan partisipasi dari pak Kapolresta untuk memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat karo yang ada didua daerah ini,”katanya.
Lebih lanjut dikatan mereka, kehadiran sosok AKBP Jhony Sebayang, mengingatkan mereka akan kehadiran beberapa pejabat marga karo yang telah bertugas di Sibolga Tapteng ini. Diantaranya, Dandim 0211 TT, Danrem, Kepala PM, Kejaksaan, Pengadilan, dan masih banyak lagi jabatan lainnya. Namun yang menduduki jabatan Kapolres baru lah AKBP Jhony Sebayang. “Atas dasar itulah, kami merasa bangga atas jabatan yang baru bapak emban saat ini, kami siap untuk mendukung tugas-tugas Negara yang dibebankan kepada bapak,”katanya.
Sementara itu Kapolres Kota Sibolga AKBP Jhony Sebayang dalam sambutannya, mengaku terharu dan bangga atas penyambutan tersebut. “Kehadiran saya ke tempat ini tidak menjadikan saya sebagai orang asing, karena banyak orangtua saya dan keluarga saya di tempat ini. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih atas sambutan yang luar biasa ini. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat karo agar jangan melakukan tindakan atau pelanggaran hukum, karena apa pun alasannya kalau sudah melakukan tindakan pidana atau kejahatan harus berurusan dengan hukum,”tandasnya.
Pada kesempatan itu juga dilanjutkan dengan pemberian Uis Beka Buluh (Kain adat karo) kepada Kapolresta beserta dengan istri yang disampaikan oleh pengurus Merga Silima Sibolga-Tapteng yang diiringi musik Odak-odak Karo yang khusus didatangkan dari tanah karo. Acara ini pun berlangsung khitmad dan penuh dengan kekeluargaan. (Jason Gultom)

Sabtu, 07 Maret 2009

Sudah Saatnya Hutan Batang Toru Menjadi Hutan Lindung

Taput, Batak Pos
Mata publik saat ini tertuju akan keberaan Hutan Batang Toru yang letaknya berada di 3 wilayah kabupaten di Tapanuli, yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Hutan Batang Toru dengan luas hutan primer 136.284 hektare yang terdiri atas kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat (KHBTBB) seluas 81.344 ha, dan Kawasan Hutan Batang Toru Blok Timur (KHBTBT) seluas 54.940 ha. Di kawasan ini keanekaragaman hayati berupa satwa-satwa langka yang dilindungi seperti, orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, Tapir, Kambing Hutan, Beruang dan puluhan jenis burung, ditambah lagi keberadaan tumbuh-tumbuhan liar yang telah langka ada di tempat ini. Atas dasar itulah, hutan Batang Toru ini diharapkan sebagai kawasan Hutan Lindung.
Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang berkantor di Medan , Sumatera Utara terpanggil untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang keberadaan Kawasan Hutan Batang Toru ini. Yayasan ini mengadakan kunjungan lapangan dan diskusi jurnalis selama dua hari mulai tanggal (4-6/3) di dua wilayah, yaitu, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah. Tujuan dari diskusi ini adalah, mengungkap pentingnya revisi atas SK Menhut no 44 tahun 2005 untuk mendukung penyelamatan Kawasan Hutan Batang Toru (KHBT). Memberikan pemahaman pentingnya terbentuknya kawasan Hutan Batang Toru sebagai hutan lindung. Mendorong partisipasi berbagai pihak baik masyarakat, pengambil kebijakan dan private sector untuk melindung Kawasan Hutan Batang Toru. Serta Mendorong terbitnya komitmen pemerintah tiga kabupten untuk merevisi kawasan Hutan Batang Totu menjadi hutan lindung.
Dari hasil kunjungan YEL bersama dengan wartawan ke kawasan Hutan Batang Toru yang berada di Dusun Aek Matio Jae, Desa Adian Koting, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, warga setempat sangat mendukung dan menyambut baik jika kawasan tersebut dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung. “Kami masyarakat Dusun Aek Matio Jae ini sangat mendukung jika kawasan Hutan Batang Toru ini dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung, karena kami dapat merasakan keindahan alam dan kelestarian daerah kami ini yang berdampak terhadap penghasilan kami sebagai petani dan pemilik kebun,”kata warga Dusun Aek Matio Jae, diantaranya, Uti Simanungkalit, Ali Rahmad, R Panggabean.
Menurut warga, hasil kebun mereka seperti, kemenyan, karet, coklat masih mampu memberikan hasil yang lumayan dengan terjaganya kawasan hutan Batang Toru, walau pun acap kali harga komuditi tersebut tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluargkan.
Sama halnya dengan PLTA Sipansihaporas yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dimana Pembangkit Listrik Tenaga Air ini menjadikan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang berada di Kawasan Hutan Batang Toru sebagai mesin penggerak turbin. Menurut Manajer PLTA Sipansihaporas, Abdul Rasyid, pihaknya mendukung sepenuhnya kawasan Hutan Batang Boru dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung. “PLTA Sipansihaporas ini membutuhkan debit air normal sebesar 28m3/detik untuk menghasilkan daya listrik sebesar 50MW. Kami sangat setuju jika kawasan Hutan Batang Toru ini dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung,”harapnya.
Selain PLTA Sipansihaporas, ada tiga lagi PLTA yang memanfaatkan DAS Hutan Batang Toru, diantaranya, PLTA Adek Sibundong, PLTA Aek Raisan I dan Aek Raisan II, dan termasuk mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Sarrulla yang bergantung ketertutupan kawasan Hutan Batang Toru dalam rangka menjamin keberlangsungan panas bumi yang ada di kawasan ini.

Dengan banyaknya dampak positif dari keberadaan kawasan Hutan Batang Toru ini ditambah lagi dengan niat baik Dinas Kehutan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten terhadap status kawasan Hutan Batang Toru, maka diharapkan Menteri Kehutanan RI dapat menyembut baik pelestarian Hutan batang Toru yang digagas oleh Pokja Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB guna mewujudkan kesempatan mendapakan jasa carbon dan nilai ekonomi sumber daya air dikemudian hari bagi 3 kabupaten (Taput, Tapteng, Tapsel). (Jason Gultom)

Jumat, 15 Februari 2008

Boa-Boa Sian Huta: Sejarah Uang ORITA (Oeang Reopublik Tapaeonuli)

Boa-Boa Sian Huta: Tahukan Anda Cerita Lagu BUTET?

Boa-Boa Sian Huta: Tolak Bala Nelayan

Melirik Ritwal Parmalim di Balige

Spritual

Melirik Ritwal Agama Malim
di Balige
Acara ritual yang biasa dilakukan di komunitas Malim SiJangkon uras untuk mendoakan, dan untuk memohon sesuatu kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa). Yang menjadi thema dalam acara yang baru-baru ini dilaksanakan di makam Raja Sisinga Mangaraja ke XII di Balige, Tobasa, adalah agar adat dan hukum dapat tertata dengan baik jangan rusak dan betul-betul dilakukan. Dengan tertatanya Adat dan Hukum dapat menjadi kemajuan terutama di Bangso Batak seperti pepatah Batak yang mengatakanJumpang “Naniluluan dapot nanijalahana itu akan tercapai apabila adat dan hukum tertata dapat dijalankan dengan baik”.
Acara ritual ini dilaksanakan atas persetujuan dari kaum komunitas Malim yang sudah sepakat untuk meminta doa kepada Debata Mulajadi Nabolona sesuai kesepakatan raja-raja dan inang soripada, dengan Martonggo apa yang diminta semoga dapat dikabulkan. Pasalnya saat ini sudah banyak terjadi musibah bencana alam seperti Tsunami, bencana longsor dan Gunung berapi meletus. Walau pun bencana tersebut tidak terjadi di Daerah Tobasa, Balige, namun komutas Malim turut iktu merasakan atas musibah yang dialami sesama umat manusia diBumi ini. Oleh karen itu komunitas Malim Si Jangkon Uras berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon agar permohonan mereka dapat dikabulkan.
Uluan (pimpinan) Ritual dipimpin oleh Op. Dongguk Siahaan dari berbagai Desa yakni Panamparan, meranti tegah, Batu mamak, Pintu pohan Meranti dabn lainya sekira Ratusan orang. Ritual ini sejak pagi hari dilaksanakan, mulai persiapan bahan untuk persembahan kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui Op Sisingamangaraja XII. Setelah bahan dipersiapkan, terlebih dahulu meminta ijin kepada Op Sisingamangaraja XII yaitu dengan membawa bahan untuk persembahan seperti aek mual natio (air bersih), jeruk purut, dan lainnya yang diperlukan pada acara ritual itu ke makam Op. Sisingamangaraja XII.
Biasanya pada acara ritual Martonggo ini, para penganut kepercayaan Malim turut mempersembahkan hasil bumi mereka untuk disajikan dan seraya berdoa agar kaum komunitas Malim dapat diberikan kesehatan dan mendapat hasil panen yang berlimpah dan dijauhkan dari bala.
Menurut pemaparan Op. Dongguk Siahaan, Malim pada umumnya ada dua, yakni secara fisik dapat dilihat dengan pakaian hitam dan topi hitam, dan topi putih. Malim itu sendiri memiliki arti suci, yang diterjemahkan suci dari penglihatan, pendengaran, pikiran, dan jiwa raga. “Sesuai aliran kepercayaan yang kami anut, bahwa Malim itu menjalankan kepercayaan religiusnya dengan melaksanakan ritwal dengan menggunankan musik gochi dan diiringi sarune untuk memanjatkan doa kepada Debata Mulajadi nabolon,”terannya.
Ditambahkan Op Dongguk Siahaan bahwa ada pun jenis Parmalim yakni Parmalim partali-tali Nabottar dan pratali-tali nabirong. Partali-tali nabottar ada di Laguboti Huta Tinggi, dan Tanoh Datar Parbongoran. Golongan Raja Batak dari kaum Kristen, Muslim dan Budha lainnya bisa masuk si Raja Batak. Tapi kalau aliran kami ini tidak bisa masuk dari aliran lain kecuali aliran Malim itu sendiri, itu bedanya. Contoh Aliran Sisingamangaraja XII sampai kepada pengikutnya seperti kami ini. Aliran tangga-tangga kuasa dalam suatu golongan seperti partangiang, panuturi, Panitangi dan parbaringin. Namun dalam aliran kami sudah tidak ada yang sanggup untuk menjalankan tugas dari aliran parbaringin, namun di komunitas lain parbaringin itu ada. Sesuai ajaran Sisingamangaraja XII adat parmalim kami Si jangkon Uras menggunakan lambang Gantang (timbangan), yang artinya, tidak bisa menyogok dan di sogok.

Tahukan Anda Cerita Lagu BUTET?


Di Gua Nagatimbul Lagu Butet Diciptakan
Jason Gultom


Butet…Dipangunsian do amangmu ale butet..., namargurilla da mardarurat ale butet… Itulah penggalan lagu perjuangan yang cukup terkenal sampai saat ini. Namun tidak semua orang tahu bahwa lagu tersebut sudah mengalami pergesaran syair, dan tidak semua juga orang tahu kalau lagu itu diciptakan di Gua Nagar Timbul yang letaknya berada di tengah Hutan Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah. Guan itu lah yang pertama kali menjadi saksi berkumandangnya lagu BUTET.
Lantas bagimana sebenarnya isi sayir lagu Butet itu? Menurut pengakuan warga Nagatimbul dan juga warga Sitahuis sewaktu dijumpai METRO beberapa waktu lagu menjelaskan, bahwa syair asli lagu Butet itu adalah seperti berikut. “Butet…di Sitahuis do Amangmu ale Butet…damancentak hepeng Orita ale Butet…damancetak hepeng Orita ale Butet.
Memang sampai saat ini tidak diketahui siapa pencipta lagu tersebut, hal itu dibuktikan dalam sampul kaset atau lagu yang sering dinyanyikan pada saat menjelang kemerdekaan yang nama penciptanya ditulis NN. Namun menurut pengakuan warga Sitahuis dan Desa Nagatimbul bahwa lagu itu dinyanyikan br Tobing warga Sitahuis sewaktu menina bobokan borunya (Butet dalam bahasa batak).
“Menurut sejarah, bahwa lagu Butet itu dinyanyikan di Gua perjuangan yang terdapat di hutan Nagatimbul ini, dimana masyarakat Sitahuis dan Nagatimbul bersembunyi di gua tersebut, sementara kaum pria waktu itu berada di Sitahuis untuk berjaga-jaga dan sebagian ada yang mencetak uang ORITA (Oeang Republik Tapanoloe, yang merupakan ejaan lama). Dimana waktu itu tempat percetakan uang ORITA adalah di Sitahuis. Sewaktu putri br Tobing ini yang disebut Si Butet mau tidur ibunyapun menina bobokannya dengan lagu Butet,”aku sejumlah warga Desa Sitahuis dan Nagatimbul.
Masih seputar penjelasan warga, setelah Sitahuis dikuasi Belanda dan menjadikan Desa Sitiris yang masih satu Kecamatan dengan Sitahuis menjadi markas Belanda, percetakan uang Orita itupun dibakar sibontar mata (sebutan bagi Belanda) namun mesin cetak uang tersebut masih sempat diselamatkan dan dibawa kedalam gua perjuangan di hutan Nagatimbul. Aktivitas percetakan uangpun sempat berlanjut di gua tersebut, namun sangat disayangkan bahwa mesin cetak uang itu tidak diketahui dimana keberadaannya sekarang ini.
“Kami tidak tahu lagi kemana mesin cetak tersebut dibawa para pejuang kita dulu, hanya saja menurut sejarahnya di gua perjuangan yang berada di hutan Nagatimbul masih sempat dicetak uang ORITA sebagai alat tukar yang sah waktu itu. Makanya Belanda terus mengejar dan berusaha untuk mengambil percetakan tersebut. Namun sangat disayangkan mesin cetak itu sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadannya, apakah berhasil dibawa Belanda atau tidak,”aku Kepala Desa Nagatimbul R Pasaribu.
Awak koran inipun terus menelusuri tentang lokasi percetakan uang ORITA yang berada di Sitahuis yang saat ini sudah menjadi Kecamatan Sitahuis. Usaha METROpun tidak sia-sia, dimana lokasi percetakan tersebut berhasil ditemukan di rumah Andareas Aritonang. Menurut pengakuan Camat Sitahuis Joseph dan juga pemilik rumah yang berada dikawasan perkantoran Camat Sitahuis dan warga Sitahuis membenarkan bahwa di rumah Andareas Aritonang uang ORITA tersebut dicetak.
“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya ORITA, memang rumah ini sudah mengalami pemugaran namun hanya bagian depan saja, itupun kami jadikan sebagai warung, sedangkan pada bagian tengah rumah dan loteng rumah ini masih bawaan rumah dulu. Dan diruang tengah inilah uang tersebut dicetak,”aku T br Simatupang (Op Jesri) saat ditemui METRO dikediamannya di Sitahuis.
Lebih lanjut Op Jesri yang sudah berusia 81 tahun ini menuturkan, Belanda terus mencari dimana lokasi percetakan uang ORITA, karena dengan adanya uang ORITA, maka uang Belanda tidak berlaku waktu itu, akunya. Namun sangat disayangkan bahwa uang tersebut tidak adalagi dimiliki Op Jesri dan juga keluarganya.
“Memang dulu ada saya simpan, tapi saya tidak terfikir bahwa uang itu akan berarti nantinya, makanya keberadaan uang tersebut tidak terlampau kami pedulikan saat itu,”kata Op Jesri.
Op Jesri juga tidak mengingat lagi kapan uang tersebut dicetak di Sitahuis, demikian juga dengan warga sekitarnya, mereka hanya mengingat bahwa dirumah Andareas Aritonang uang ORITA dicetak, sedangkan dibagian depan rumah tersebut duluny ada gudang yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang percetakan dan juga peralatan perang pejuang Tapanuli dulunya.
Sekarang kawasan tersebut suda berdiri rumah tinggal penduduk, termasuk dilahan yang dulunya gudang sudah menjadi rumah penduduk, sedangkan dikawasan sekitarnya sudah berdiri kantor Camat Sitahuis. Warga juga berharap agar bukti-bukti sejarah yang masih tertinggal dapat dirawat dan dilestarikan, karena suatu saat hal itu menjadi bukti sejarah yang sangat berarti bagi generasi berikutnya, apalagi Propinsi Tapanuli sudah terwujud nantinya akan menjadi sejarah baru bagi Propinsi Tapanuli yang kita harapkan dapat segera terwujud, harap warga. (***)

Antara Obat dan Penyakit

Merokok
Dapat Merusak
Kesehatan??
"
Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin". Begitulah selogan yang terdapat dalam bungkus rokok.
Lantas timbul pertanyaan, kalau memang gara-gara merokok dapat menyebabkan hal yang diatas, kenapa sampai saat ini masih banyak orang yang meroko? termasuk saya sendiri!
Mungkin beragam tanggapan yang muncul tentang hal itu. Namun bagi saya pribadi, merokok itu antara Obat dan Penyakit. Kenapa saya katakan demikian? Terserah anda menilai jawabanku ini. Saya baru merokok setelah tamat SMA, awalnya karena pingin saja merokok. Setelah saya coba rasanya biasa-biasa saja. Saat itu timbul pertanyaan pada diri saya. "Kalau memang merokok tidak ada
manfaatnya, kenapa orang terus meroko?". Itulah pertanyaan yang selalu timbul dalam benak saya ketika itu. Ternyata pertanyaan itu dijawab oleh keadaanku saat itu. Saya masih ingat sekitar tahun 1995 sewaktu aku masih berada di Jakarta. Saya terbelenggu dengan berbagai persoalan pekerjaan. Karena merasa pusing, saya pun kembali merokok, setelah saya hisap, ada ketenangan, dan sepertinya ada solusi untuk mengatasi masalahku itu. Dengan timbulnya ide tersebut, saya pun berhasil mengalahkan persoalan tersebut. Atas pengalaman itu lah saya menilai bagi diri saya sendiri bahwa merokok itu dapat memberikan obat.

Saya yakin, pasti banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya ini, hanya saja saya ingin menyampaikan pengalaman saya setelah merokok. Mungkin saya anda menilai bahwa saya sudah ketergantungan dengan rokok. Namun seandainya saat itu saya tidak merokok, mungkin tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.

Sejak peristiwa itu lah samapi sekarang saya hidup berdampingan dengan rokok, dan setiap saya menikmati kebulan asap yang masuk dapam mulutku selalu ada ide dan solusi yang terlintas dibenakku. Bagiku rokok itu adalah Obat..

ORITA (Oeang Repoeblik Tapanoeli)

Sejarah Uang ORITA
Oleh Jason Gultom
Dari Mata Uang ORI, ORIPS, Sampai ORITA
Sejarah keberadaan ORITA (Oeang Repoeblik Indoesia Tapanoeli) yang dicetak di Siahuis Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah kini semakin jelas keberadaannya. Berdasarkan hasil investiasi METRO keberbagai sumber, salah satunya kepada putra kandung pencetak uang ORITA Bistok Siregar yang kini masih tinggal di Sibolga yaitu Eben Siregar ( 47) dan juga cucu Pahlawan Nasional asal Sibolga Dr Ferdinand Lumbantobing, Berlin Tobing (38). Dari hasil wawancara METRO Sabtu (7/4) di kediamanan Rumah Sang Pahlawan dan juga dikediaman Eben Siregar menyebutkan, bahwa sebelum ORITA dicetak sudah ada jenis uang sebelumnya, yaitu ORI (Oeang Repoeblik) dan ORIPS (Oeang Repoeblik Indonesia Poelau Sumatera). Menurut Berlin cucu Pahlawan Nasional Dr Ferdinand Tobing, tentang sejarah ORITA sudah dituliskan sang Pahlawan dalam sebuah buku yang berjudul Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Ferdinand Lumbantobing Patriot Pembela Republik. “Agar saya jangan menceritakan, lebih baik anda membaca isi buku ini,”katanya sembari memberikan buku tersebut. Dalam buku terbitan tahun 1997 itu dijelaskan, walaupun Jepang sudah kalah dan Republik Indonesia sudah berdiri, namun mata uang yang beredar waktu itu masih mata uang Jepang yang telah berlaku sejak zama pendudukan Jepang sampai tahun 1944. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 barulah Pemerintah Pusat Republik Indonesia mengeluarkan alat pembayaran sendiri, yaitu Oeang Repoeblik atau disingkat dengan ORI. Sejak bulan Oktober 1946, Oeang Repoeblik (ORI) sebagai alat tukar yang baru pengganti uang Jepang. Uang ORI sudah diedarkan ke Sumatera dengan nilai tukar 1:100 antara ORI dengan uang Jepang Yen. Namun demikian persediaan alat tukar ORI yang diterima di Sumatera tidaklah mencukupi. Untuk mengatasi masalah tersebut, Gubernur Sumatera yang berkedudukan di Pematangsiantar sesuai dengan maklumat Gubernur tanggal 8 April 1947, mencetak uang khusus untuk Sumatera yaitu Oeang Repoblik Indonesia Poelau Soematera atau disingkat dengan ORIPS. Tetapi itupun belum memadai, karena setiap Daerah Keresidenan harus membiayai sendiri gaji pegawai termasuk Polisi,Tentara, dan untuk keperluan kantor, obat-obatan dan lain-lainnya. Sejak itu beberapa daerah lainnya mendesak agar diizinkan untuk mencetak mata uangnya sendiri-sendiri. Sementara itu seluruh daerah keresidenan di Sumatera sangat terdesak oleh kekurangan uang untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan dan pertahanan di daerahnya masing-masing, serta guna memperlancar roda ekonomi daerah. Setelah Agresi Militer yang pertama dimana Pemerintah Provinsi Sumatera mengungsi dari Pematangsiantar ke Bukit Tinggi, maka percetakan dan persediaan ORIPS juga berantakan karena Pematangsiantar sudah diduduki musuh. Akibatnya Pemerintah Provinsi tidak mampu lagi memasok persediaan uang untuk belanja pemerintah Keresidenan. Menghadapi situasi yang tidak menentu itu maka Residen Tapanuli telah meminta persetujuan Gubernur agar diizinkan untuk mencetak uang sendiri bagi kebutuhan Tapanuli. Gubernur setuju dan memberikan kuasa syah untuk Tapanuli saja. Uang itu disebut Oeang Repoeblik Indonesia Tapanoeli atau disingkat ORITA. Percetakan uang ORITA itu dilakukan di Aek Sitahuis yang disebut juga sebagai Sibolga II, dimana daerah Sitahuis sudah dipersiapkan menjadi Kota candangan ibu kota Tapanuli, jika Sibolga (yang disebut Sibolga I) diserang musuh. Untuk percetakan uang ORITA tersebut diangkutlah mesin cetak dari Percetakan Philemon bin Haroen Siregar yang ada di Sibolga ke Aek Sitahuis. Oleh karena dizaman revolusi Indoesia masih kekurangan maka tentu saja uang ORITA itu tidak seperti uang zaman sekarang. Kertanya sederhana dan tintanyapun bukanlah yang waterproof. Kadang-kadang setelah dicetak perlu dijemur lebih dahulu, agar cetakannya cepat kering, karena yang membutuhkan uang tersebut sudah antri menunggu. Banyaknya uang dicetak tidaklah semaunya sendiri tetapi didasarkan pada otoritas dari Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah Kresidenan. Dan untuk pengawasan pengeluarannya, setiap lembar uang ORITA ditandatangani oleh seorang pejabat keuangan yang ditunjuk oleh Residen. Khusus diwilayah Keresidenan Tapanuli Dr Ferdinand Tobinglah yang menandatanganinya. Walaupun proses penecatakan dan pengluaran ORITA itu sangat sederhana saja namun pada waktu itu tidak pernah ada kedengaran yang berbuat curang atau korupsi. Semua pegawainya bersifat jujur dengan bertanggungjawab, karena Residen Tapanuli Ferdinand Tobing sebagai atasannya juga sangat jujur dan penuh tanggungjawab dan tidak pernah berbuat yang menguntungkan kepribadiannya atau keluargaanya. Semuanya berjalan diatas rel kejujuran dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga terciptalah pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Namun pada masa Agresi Militer Belanda kedua, ketika Belanda tiba di Aek Sitahuis percetakan itu belum sempat dipindahkan. Oleh Belanda percetakan itu disegel dan tidak boleh dibuka dan disuruh dijaga polisi kita yang tinggal di di Aek Sitahuis dengan ancaman akan ditembak jika barang-barang yang disegel itu hilang. Tetapi pada malam harinya pemuda-pemuda PRS ( Pertahanan Rakyat Semesta) Aek Sitahuis bersama Aek Raisan membongkar segel Belanda tersebut dan semua barang-barang pemerintah Keresidenan dan Dewan Pertahanan termasuk mesin cetak ORITA itu diangkut kepedalaman. Kemudian mesin-mesin cetak itu ditempatkan disuatu tempat yang dirahasiakan dipedalaman sebagaimana yang ditentukan wakil Komandan Sub Teritorial VII Letkol W Siahaah. Pada pertengahan bulan Feburari tahun 1949 percetakan itupun telah berhasil kembali mencetak ORITA yang diperlukan oleh pemerintah dan pasukan gerilya TNI di pedalaman.

Uang Republik Tapanuli dan Mesin Cetaknya

Foto Mesin Cetak ORITA yang masih ada di Sibolga, Sumatera Utara

Mesin Cetak ORITA Itu Tinggal Kenangan
Catatan Jason Gultom Wartawan METRO TAPANULI
Ada kebanggan tersendiri bagi masyarakat Tapanuli, dimana pada masa keresidenan dahulu, wilayah Tapanuli sudah dipercaya pemerintah saat itu untuk mencetak mata uang sendiri, yang diberi nama ORITA (Oeang Repoeblik Tapanuloe). Munculnya kepermukaan tentang uang ORITA ini atas envestigasi Jason Gultom selaku wartawan harian METRO TAPANULI. Dimana waktu itu METRO TAPANULI memberitakan bukti-bukti sejarah perjuangan masyarakat Tapteng untuk melawan Belanda khususnya yang ada di Kecamatan Sitahuis dan Desa Nagatimbul Kabupaten Tapanuli Tengah , respon pembaca metro sangat antusias, hal itu dibuktikan dengan adanya laporan dari pembaca METRO tentang keberadaan mesin cetak uang ORITA sebagai mata uang Republik Tapanuli waktu itu. Salah seorang pembaca METRO TAPANULI, Bagdani Siregar (62) warga Pasar Belakang Kecamatan Sibolga Kota menghubungi Kantor METRO untuk memberitahukan bahwa mesin cetak ORITA masih ada dirumahnya. Mendapat informasi tersebut, awak METRO langsung turun kekediaman Bagdani.
Menurut penuturan Bagdani Siregar kepada METRO mengatakan, mesih cetak tersebut adalah milik sahabatnya Horas Siregar yang merupakan putra pemilik percetakan Philemon Bin Harun Siregar.
“Tahun 2004 lalu kami bersama Horas Siregara sudah sepakat kerjasama untuk membuka percetakan dengan menggunakan mesin cetak uag ORITA. Hanya saja waktu itu itu keadaan mesin cetak ini sudah tua jadi kecepatannya sudah berkurang dibandingkan dengan mesin cetak yang baru. Atas kesepakatan bersama kami putuskan untuk merememajakan mesin cetak tersebut dengan meminta bantuan dari Wali Kota saat itu. Hanya saja Wali Kota mengatakan, bahwa Pemko Sibolga tida memiliki museum untuk menyimpan mesin cetak tersebut,”akunya.
Karena usulan kami tidak diterima Wali Kota saat itu lanjut Bagdani, akhirnya kami mengajukan proposal ke Bank Indonesia Sibolga. Saat itu pihak Bank Indonesia besedia dan sudah turun ke tempat ini untuk melakukan pengecekan dan mengambil foto mesin cetak tersebut, Pihak BI waktu itu berjanji akan berusaha membantu. Namun setelah ditunggu sekain lama tidak ada hasil, dan akhirnya teman saya Horas Siregar berangkat ke Jakarta langsung ke Bank Indonesia. Menurut keterangan BI Jakarta, harus ada klise uang ORITA sebagai bukti bahwa mesin tersebut pernah mencetak uang ORITA. Padahal waktu itu klise uang ORITA terbuat dari serat kayu dan itu tidak bisa lagi ditemukan. Sejak itulah teman saya Horas Siregar tidak pulang lagi ke Sibolga ini sampai sekarang.
“Karena tidak ada kepastian, akhirnya mesin cetak ini dititip kepada saya sampai sekarang, karena saya memiliki gudang yang lumayan lebar sehingga bisa menyimpan alat-alat mesin percetakan,”terangnya.
Lebih lanjut dikatakan Bagdani, setelah membaca berita METRO tentang tulisan uang ORITA saya langsung teringat dan tentang keberadaan mesin cetak ini, makanya saya langsung menhubungi METRO, agar masyarakat tahu dan juga pemerintah bisa memberikan perhatian akan keberadaan mesin cetak yang memiliki sejarah berharga ini.
“Sebenarnya saya tidak tahu banyak tentang keberadaan mesin cetak uang ini, karena yang mengetahui sejarah tersebut adalah orangtua teman saya, Bapak Philemon Siregar, karena merekalan pertama kali yang memiliki percetakan di Sibolga ini. Karena tidak ada yang memperdulikan, mesin cetak ini kamipun menyimpannya begitu saja di gudang ini,”akunya.
Hasil amatan METRO mesin pencetak uang ORITA ini masih tampak bagus, hanya saja sudah banyak pelaratannya yang berkarat. Mesin cetak tersebut terdidi dari tiga bagian, dan ketigany masih tersimpan digudang milik Bagdani Siregar. Sedangkan uang ORITA hasil cetakan mesin tersebut masih ada tertinggal disana sebagai barang bukti, yaitu uang pecahan 500rupiah yang dicetak pada tanggal 5 Januari 1947-1949 nomor seri 45917. Sedangkan pada bagian mesin cetak tedapat tulisan The Chandler and price co Cleveland, ohic USA.
Selain uang pecahan 500 rupiah juga terdapat pecahan uang satu rupiah yang dicetak pada tanggal 25 September 1947, dengan bukti surat keterangan dari Keresidaenan Tapanoeli.
Kepada METRO Bagdani Siregar mengharapkan, agar pemerintah khususnya Pemkab Tapteng dapat memperhatikan keberadaan mesin cetak tersebut, karena jasa mesin tersebut telah dirasakan masyarakat Tapanuli pada masa penjajahan. Selain itu percetakan uang ORITA berlangsung dulunya di Sitahuis, dan itu merupakan bagian wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Kami berharap agar Pemkab Tapteng menanggapi keberadaan mesin cetak uang ORITA ini sehingga tidak terlantar seperti sekarang ini, karena mesin cetak ini sudah permah memerima pengharagaan berupa piagam dari menteri Pariwisata RI yang menyatakan mesin ini adalah mesin pencetak uang ORITA,”harapnya.

Asa Unang Lilu Hita

Taromboni Marga Gultom

Seperti kita ketahui, Toga Gultom adalah keturunan No. 1 dari Si Raja Sonang. Keturunan yang lain adalah Toga Samosir, Toga Pakpahan, dan Toga Sitinjak.

Pada jaman dahulu kala manusia di bumi ini masih sedikit. Si Raja Sonang membagi-bagi daerah kekuasaannya kepada keempat anaknya. Toga Gultom mendapat bagian di suatu tempat di P. Samosir yang bernama Tujuan Laut. Tempat ini adalah daerah pertama yang diduduki oleh Toga Gultom.Toga Gultom memiliki empat orang anak yaitu Huta Toruan (Tujuan Laut), Huta Pea, Huta Bagot, dan Huta Balian. Seluruh keturunan Toga Gultom hidup di Tujuan laut tersebut dan setelah mereka menjadi banyak, mereka membuka lahan disekitarnya, diantaranya Sitamiang yang diberikan kepada Huta Toruan.

Pada suatu saat salah seorang keturunan Huta Pea, yaitu Si Palang Namora menyebrang lautan menuju ke daerah Sibisa dan menetap disana. Daerah Sibisa adalah daerah yang diduduki oleh marga Sirait. Didaerah ini Si Palang Namora menikah dengan boru Sirait dan memiliki beberapa orang anak, yaitu Tumonggopulo, Namoralontung, Namorasende, dan Raja Urung Pardosi.

Keadaan ekonomi keluarga Si Palang Namora ini berkembang dengan baik dan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan perekonomian anak lelaki dari keluarga Sirait. Hal ini menimbulkan ketakutan pada keluarga Sirait, sehingga mereka berusaha agar Si Palang Namora meninggalkan kampung mereka.
Pada akhirnya Si Palang Namora meninggalkan daerah Sibisa dan kembali ke P. Samosir. Akan tetapi salah seorang anak tidak ikut bersama mereka, yaitu Raja Urung Pardosi. Pada saat itu Raja Urung Pardosi sedang menimba ilmu hadatuon di daerah Hatinggian.

Si Palang Namora bersama keluarganya menetap di P. Samosir. Ketiga anak yang ikut bersamanya pada akhirnya menyebar ke beberapa daerah di sekitar Tujuan Laut, yaitu Sitamiang, Huta Hotang, Janji Matogu, Siriaon, dan Gonting.
Anak No. 1 dan 2, yaitu Tumonggopulo dan Namoralontung menyebar ke Gonting. Sedangkan anak no. 3 (Namorasende) menduduki daerah Huta Hotang.
Selanjutnya penyebaran keturunan Gultom Huta Pea adalah ke daerah Janji Matogu dan Siriaon. Penyebaran ke daerah ini dimulai dari keturunan Ompu Saruambosi (Raja Na Iringgit), yaitu keturunan Gultom Huta Pea generasi ke 10 (dapat dilihat pada bagian Family Tree/Tarombo) dari anak ketiga si Palang Namora. Ceritanya, Raja Na Iringgit memiliki empat orang permaisuri, yaitu:1. Br. Parhusip2. Br. Samosir3. Br. Parhusip4. Br. Manurung

Permaisuri yang pertama, yaitu Br. Parhusip tidak memiliki anak lelaki. Permasuri yang kedua, yaitu Br. Samosir, menurunkan tiga orang anak lelaki, yang kemudian bermukim di Siriaon. Sedangkan permaisuri yang ketiga, yaitu Br. Parhusip menurunkan lima orang anak lelaki, yang kemudian bermukim di Janji Matogu. Permaisuri yang keempat, yaitu Br. Manurung, menurunkan empat orang anak Lelaki, yang kemudian bermukim di Sitamiang. Masing-masing anak menjadi cikal bakal penyebaran Gultom ke daerah tersebut.
Penyebaran Keturunan Gultom Huta Toruan ke daerah Siregar

Gultom Huta Toruan yang bermukim di daerah Sitamiang pada akhirnya banyak yang menetap dan bertambah banyak di daerah Siregar. Adapula yang menyebar ke daerah lain, misalnya Pangaribuan. Adapun keturunan Gultom Huta Toruan adalah:1. Op. Parpodang2. Op. Martabun3. Op. Sonar
Penyebaran Keturunan Gultom Huta Pea ke Pangaribuan.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa Raja Urung Pardosi tidak ikut pulang ke P. Samosir bersama keluarganya, karena saat itu ia sedang menimba ilmu hadatuon di daerah Hatinggian.
Seperti layaknya seorang anak yang baru saja menyelesaikan sekolah, Raja Urung Pardosi hendak pulang ke rumah orang tuanya di Sibisa. Akan tetapi ia mendapati rumah orang tuanya kosong. Akhirnya bersama dua orang teman seperguruannya, yaitu Harianja dan Pakpahan, mereka berjalan terus. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan burung Tekukur.

Mereka berusaha menangkap burung itu dengan cara menyumpitnya, agar burung itu jatuh. Tetapi burung itu sulit sekali ditangkap sehingga tanpa disadari mereka terus mengikuti burung itu sampai hari gelap. Akhirnya mereka sampai di suatu daerah yang bernama Pangaribuan. Disana mereka ditampung oleh sebuah keluarga bermarga Pasaribu. Sebagai tuan rumah yang baik, Pasaribu berusaha melayani tamunya dengan baik.
Pasaribu meminta sang istri untuk menyediakan makanan bagi para tamu. Akan tetapi si istri menginformasikan bahwa tidak ada lauk-pauk yang dapat disajikan. Pasaribu menjawab,”Huting ima seat”(kucing itu saja potong). Akhirnya si istri menyembelih huting (kucing), dan mengolahnya menjadi makanan siap saji yang berupa tanggo-tanggo, sementara tamu-tamu mereka beristirahat.

Setelah makanan siap disajikan, Pasaribu membangunkan tamu-tamunya, dan mempersilahkan mereka makan. Raja Urung Pardosi bertanya kepada teman-temannya, “Apa lauknya?”. Yang dijawab oleh teman-temannya, “Tanya saja!”. Karena mereka telah menimba ilmu hadatuon, mereka memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang bagi orang lain mustahil.

Akhirnya Raja Urung Pardosi bertanya kepada tanggo-tanggo di meja makan,”Jika engkau ayam, berkokoklah!”, namun tidak terjadi sesuatu. Raja Urung Pardosi bertanya kembali, “Jika engkau kambing, mengembiklah”, namun tetap tidak terjadi sesuatu. Raja Urung Pardosi dan teman-temannya terus menyebutkan nama-nama hewan, namun tanggo-tanggo itu tetap tidak bersuara, sampai akhirnya salah seorang menyebutkan,”Jika engkau kucing, mengeonglah”, akhirnya berloncatanlah kucing dari dalam piring tanggo-tanggo itu.
Pasaribu yang melihat kejadian itu menjadi kaget, dan lari pontang-panting ketakutan. Ia mengira ketiga tamunya bukan manusia biasa. Seluruh kampung menjadi geger, dan akhirnya melarikan diri keluar dari daerah itu. Adapun ketiga orang itu, Raja Urung Pardosi, Harianja, dan Pakpahan, akhirnya menetap di daerah itu.

Raja Urung Pardosi, yang digelari Datuk Tambun, ini menjadi keturunan Gultom pertama yang menetap di Pangaribuan.Ia memiliki empat orang anak, yaitu:1. Namora so Suharon yang tinggal di desa Parlombuan2. Baginda Raja, tinggal di desa Parsibarungan3. Saribu Raja, tinggal di desa Batumanumpak4. Pati Sabungan, tinggal di desa Batunadua
Selanjutnya penyebaran meluas ke daerah Sipirok, yang dimulai dari keturunan Saribu Raja. Saribu Raja memiliki dua orang anak yaitu, Namora Soaloon yang tetap tinggal di desa Batumanumpak, dan Babiat Galemun, yang kemudian tinggal di desa Simangambat, Sipirok.
Penyebaran Keturunan Gultom Huta Bagot & Huta Balian

Pada saat keluarga Si Palang Namora kembali ke P. Samosir, setelah bermukim sekian lama di Sibisa, keturunan Gultom Huta Bagot, menyebar ke beberapa daerah, termasuk ke Sumatera Timur. Namun ada satu daerah yang diakui sebagai “tanah air” keturunan Gultom Huta Bagot, yaitu daerah Joring.
Sedangkan keturunan Gultom Huta Balian, pada umumnya bermukim di daerah Sipollung di Sitamiang.
Demikianlah sejarah penyebaran keturunan Toga Gultom secara garis besar. Mungkin akan lebih baik jika perwakilan dari masing-masing anak Toga Gultom, melengkapi kisah penyebaran marga Gultom, mengapa bisa sampai di kampung halaman Anda saat ini, karena tidak ada cerita yang lebih baik selain dari Anda sendiri yang menjadi tokoh ceritanya.

(Nara Sumber: M.X Gultom, Sahrun Gultom, Founder Gultom Foundation)
Disadur dari www. toga gultom

PUISI

Biarlah Kesedihan Ini Larut Bersama Waktu

Kehidupan terkadang memang tindkalah mudah
Ada masa-masa kita berbahagia dalam semburat tawa
Dan ada pula masa-masa sulit
Bahkan terkadang ditingkah derai air mata

Suka dan duka silih berganti
Mendampingi perjalanan hidup
Perjalanan yang kadang harus melalaui onak dan duri
Yang membuat kita terpanah didera kesulitan
Meskipun tak jarang pula perjalanan terasa begitu indah
Bagaikan berselancar di atas gelombang lautan
Dibalut sinar yang bercahaya

Rasanya kita tidak bisa menafsirkan bahwasanya sebagai manusia biasa
Suasana hati kita juga diselimuti oleh nafsu ambisi
Untuk senantiasai menjadi yang terdepan

Kadang kekuasaan begitu melelahkan
Bahkan menina bobokan, membuai hanyut dalam mimpi indah
Ketika Tuhan bercerita lain
Maka izinkan terasa air mata ini bergulir
Ditengah galaunya perasaan

Oh.. Tuhan...
Siang dan malam Engkau gantikan begitu cepat
Putaran waktu bagaikan kilat yang datang menyambar

Oh..Tuhan Kami Maha Penyayang...
Kami tak sanggup lagi untuk berkata, berbicara
Bahkan walau hanya untuk berbisik berbagi cerita

Biarlah kesedihan ini larut bersama waktu
Biarlah kesedihan ini tercurah mengalir mencari jalannya sendiri
Biarlah air mata ini jatuh di atas pualam yang indah
Karena itulah cerminan hati.

Biarlah tetesan itu mengalir berbaur bersama air sungai
Mengalir jauh bersama air yang jernih
Agar perasaan kami menjadi tenang
Agar kegundahan kami dapat terbang bersama mimpi duka.

Rabu, 13 Februari 2008

Antara Budaya dan Agama



Mana Lebih Dulu Agama dan Budaya??
Setiap suku yang ada di Indonesia ini pasti memiliki budaya. Yang menjadi pertanyaan adalalah, Budayakah yang menjadi Agama, atau Agama yang menjadi Budaya. Pertanyaan ini memang agak sedikit membingungkan kita. Namun saya yakin anda yang membaca ini pasti memberikan komentar. Terimakasih atas komentar Andan.