Senin, 16 Maret 2009

Pesta Demokrasi

Dana Kampanye Patriot dan Pakar Pangan Hanya Rp 50.000
Tapteng, Batak Pos
Seluruh partai politik (parpol) peserta pemilu di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) telah menyerahkan rekening khusus dana kampanye kepada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat. “Dari seluruh laporan rekening dana kampanye Parpol, yang tertinggi sebanyak Rp 101.000.000 dan terendah Rp 50.000,” ungkap Ketua KPUD Tapteng Kabul Lumbantobing, kepada sejumlah wartawan, Senin (16/3) di pandan.
Dijelaskan, dana kampanye yang paling tinggi adalah Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) sebanyak Rp 101.000.000, disusul Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Rp 10.000.000, lalu Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Rp 7.192.000, Partai Bulan Bintang (PBB) Rp 6.000.000, dan posisi kelima Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Rp 5.911.867.
Sedangkan rekening terendah sebanyak Rp 50.000 di antaranya, Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan) dan Partai Patriot. “Selebihnya, ada yang Rp 100.000, Rp 150.000 hingga Rp 5 juta,” ujar Kabul sembari mengatakan, kendati demikian, hal itu dinilai sudah memenuhi syarat untuk ikut serta dalam pelaksanaan Pemilu 2009 ini, sesuai dengan peraturan yang ada.
Jadwal Kampanye
Dari 34 jumlah parpol di Tapteng, hanya 7 parpol peserta pemilu yang akan menggelar kampanye rapat umum di lapangan terbuka, sejak 16 Maret hingga 5 April mendatang dan sudah ditentukan jadwalnya.
“Pada masa kampanye, setiap parpol diberi kesempatan dua putaran melaksanakan kampanye di dua zona yang telah ditetapkan, yakni Zona A terdiri dari Dapil 1 dan 2, sementara Zona B terdiri dari Dapil 3 dan 4,” jelas anggota KPUD Tapteng, Maruli Firman Lubis dari Divisi Hukum, Pengawas, Hubungan Masyarakat, Data Informasi, dan Hubungan Antar Lembaga menjawab wartawan, Senin (16/3) di ruang kerjanya.
Ketujuh parpol itu di antaranya, Partai Peduli Rakyat Nasional, di Zona A (17/3) di Lapangan Bola Sipogu, Kecamatan Pinangsori, di Zona B (28/3) di Lapangan Bola Sipeapea, Kecamatan Sorkam Barat. Kemudian, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di Zona A (20/3) di Lapangan Bola Suka Ramai Sibabangun, dan di Zona B (31/3) di lapangan Bola Merdeka Barus.
Selanjutnya, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) di Zona A (19/3) di Pantai Indah Kalangan, dan di Zona B (29/3) di Lapangan Bola Merdeka Barus, Partai Pemuda Indonesia (PPI) di Zona A (2/4) di Lapangan Bola Sipogu, Kelurahan Pinangsori, di Zona B (22/3) di Lapangan Bola Merdeka Barus.
Sedangkan, Partai Republik Nusantara hanya di Zona B (27/3) di Kecamatan Tapian Nauli II, di samping Pasar Onan Poriaha, Partai Golongan Karya (Golkar) di Zona A (27/3) di Lapangan Bola Sipogu, Kecamatan Pinangsori dan Partai Demokrat (PD) di Zona A (28/3) di Pantai Indah Kalangan, dan di Zona B (21/3) di Lapangan Bola Sipeapea, Kecamatan Sorkam Barat.
Sementara itu, seluruh parpol peserta Pemilu 2009 di Kota Sibolga, dijadwalkan akan melaksanakan dua putaran kampanye di dua zona di antaranya, zona A untuk dapil 2 terdiri dari, kecamatan Sibolga Sambas dan Sibolga Selatan, dan zona B untuk dapil 1 meliputi kecamatan Sibolga Kota dan Sibolga Utara, sejak tanggal 17 Maret hingga 5 April mendatang. (Jason Gultom)

Sabtu, 14 Maret 2009

Pendidikan


36 Mahasiswa AKPER Tapteng di Capping Day

Bupati: Lulusan Akper Harus Mampu Go International

Pandan, Batak Pos

Lulusan Akademi Perawat (Akper) Pemkab Tapteng harus mampu go international. Itulah pesan Bupati Tapteng, Drs Tuani Lumbantobing, MSi saat menghadiri acara pemasangan cup (Capping Day) mahasiswa/i Akper Pemkab Tapteng yang dilangsungkan di Aula Kantor Bupati Tapteng, Sabtu (14/3).

Menurut Tuani, dikalangan Internasional yang dikenal itu adalah Perawat, bukan bidan, makanya banggalah saudara menjadi seorang perawat yang namanya sudah dikenal dikalangan Internasional. “Tujuan Pemkab Tapteng membangun Akper ini untuk mencetak tenaga perawat yang handal dan siap go internasional. Setuju atau tidak, anda harus mau saya ‘jual’ sebagai tenaga medis dikanca Internasional. Jadi jangan pernah anda berharap sesudah tamat dari Akper Tapteng ini untuk bekerja di dalam negeri, melainkan harus go internasional. Untuk itu bagi para dosen dan direktur Akper agar benar-benar mendidik anak-anak kita. Dan salah satu persyaratan agar mampu go internasional adalah harus mampu menguasai Bahasa Inggris dan ilmu komputer,”kata Bupati.

Sementar itu Direktur Akper Tapteng, Dr Dimpos Sibuea dalam laporan akademiknya menjelaskan, Akper Pemkab Tapteng sudah memiliki dua angkatan mahasiswa yaitu angkatan pertama dan angkatan kedua. Dan yang melaksanakan capping day hari ini adalah mahasiswa angkatan kedua dengan jumlah 36 orang.

“Kita bersyukur dengan kemampuan dari seluruh siswa Akper kita ini karena mampu untuk melanjutkan perkuliahan sesuai dengan nilai standart dari Depkes. Dimana nilai terendah yang mampu melanjutkan perkuliahan sesuai dengan standar dari Depkes adalah 1,8 sedangkan nilai terendah mahasiswa kita saat ini 2,12. Ini adalah prestasi buat Akper Pemkab Tapteng,”kata Dimpos.

Pada kesempatan itu juga Ia mengumumkan 10 besar siswa berprestasi dan tiga diantaranya dengan Indeks Prestasi tertinggi yaitu, Sri Wahyuni Lubis dengan IP 3,82, Freslin Sinaga 3,43 dan Matha Simanjuntak 3,38. “Untuk mampu menunjang prestasi para siswa ini, kami berharap agar pak Bupati menambah jumlah dosen untuk tahun ajaran 2008-2009 yaitu dosen DIV Kebidanan dan S1 keperawatan, serta persiapan untuk memasuki gedung Akper yang baru,”katanya.

Acara capping day ini turut dihadiri Kadis Kesehatan Tapteng yang diwakili sekretarisnya Dr Masdiana MARS, Wakil Ketua DPRD Tapteng H Jamaluddin Pohan, serta dinas jawatan Pemkab Tapteng. Menurut Masdiana perhatian dari Bupati Tapteng dibidang kesehatan cukup luar biasa, hal itu ditandai dengan dibenahinya sarana dan prasarana kesehtan di masing-masing Kecamatan, seperti pembangunan Puskesma, dan juga memperlengkapi alat-alat medis di RSU Pandan. “Banggalah adik-adik mahasiswa bisa kuliah di Akper Tapteng ini, karena pak Bupati sudah mempersiapkan anda untuk menjadi tenaga medis yang handal dan profesional,”katanya. (Jason Gultom)

Keterangan Foto:

Bupati Tapteng Drs Tuani Lumbantobing saat memasangkan Cup Bagi siswa AKPER Angkata ke II di Aula Kantor Bupati, Sabtu (14/3). (Batak Pos/Jason Gultom)


PERISTIWA

Barak dan Mess PLTU Labuan Angin Terbakar
Tapteng, Batak Pos
Sejumlah barak dan mess milik kontraktor di area proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan Angin di Desa Poriaha Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ludes dilalap si jago merah, Sabtu (14/3) sore sekitar pukul 15.30 Wib.
Sejumlah informasi yang diperoleh menyebutkan, tidak ada korban jiwa akibat amukan api yang melalap habis seluruh mess dan barak termasuk kantin yang terbuat dari kepingan papan tripleks dan broti yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal karyawan salah satu perusahaan tersebut, sementara kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Kepala proyek PLTU Labuhan Angin, Aji Sutrisno yang dikonfirmasi wartawan via telepon selulernya membenarkan, barak dan mess berikut kantin di area PLTU tersebut hangus terbakar, namun kejadian itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap aktifitas PLTU Labuan Angin.
“Kegiatan PLTU hingga saat ini belum ada kendala, walaupun masih dalam tahapan pengetesan oleh pihak rekanan. Berdasarkan laporan dari anggota kita yang bertugas di sana, peristiwa kebakaran tersebut berlangsung sekitar pukul 15.30 WIB dan api berhasil di padamkan pada sekitar pukul 16.15 WIB, tapi tidak ada korban jiwa dan tidak mempengaruhi aktifitas PLTU,” sebut Aji seraya menambahkan, tidak ada kantor yang terbakar dalam peristiwa itu.
Dari kejauhan terlihat jelas, amukan api yang berkobar-kobar disertai kepulan asap yang membubung tinggi ke angkasa, dan sempat menarik perhatian dan menjadi tontonan masyarakat di sekitar lokasi PLTU, bahkan terlihat hingga ke Kota Sibolga yang berjarak puluhan kilo meter.
Informasi lainnya menyebutkan, area proyek tersebut saat ini sedang dilakukan pembersihan, mengingat kegiatan pengerjaan proyek PLTU Labuan Angin berkapasitas 2 x 115 MW itu telah rampung dan segera beroperasi secara komersil pada tahun 2009 ini, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk peresmian yang rencananya akan dilakukan langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setelah penyelenggaraan Pemilu Legislatif (Pileg) mendatang. (Jason Gultom)
Keterangan Foto:
Mes dan barak milik kontraktor di Areal PLTU Labuhan Angin saat terbakar, sementara dari Kota Sibolga Tampak jelas kebulan asap akibat kebakaran tersebut (Batak Pos/Jason Gultom)

Rabu, 11 Maret 2009

Lakalantas


Hendak Jumpai Nasabah
Karyawati BPR Bumi ASih Sibolga Tewas Mengenaskan Dilindas Truk
Sibolga, Batak Pos
Mauas Marito br Situmeang (29) warga Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapteng tewas tragis dengan kondisi kepala pecah dan tubuh remuk akibat terlindas truk pengangkut getah di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Aek Muara Pinang, Kota Sibolga, Rabu (11/3) sekitar pukul 10.00WIB. Korban adalah karyawan di BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Bumi Asih Sibolga.
Menurut informasi yang dihimpun koran ini di tempat kejadian menyebutkan, lakalantas tersebut berawal saat korban yang dibonceng teman satu kerjanya di Bank Perkereditan Rakyat (BPR) Bumia Asih, Sibolga, B Parulian Lumbantobing (31) warga Kelurahan Pancuran Dewa, Kecamatan Sibolga Sambas datang dari arah kota Sibolga hendak menjumpai nasabah mereka di Rawang II Kelurahan Aek Muara Pinang dengan mengendarai sepeda motor jenis Supra X 125D BB 5924 MF.
Saat korban dan temannya berada di Jalan SM Raja Sibolga tepatnya di depan Kodim 0211/TT, salah seorang pengendara sepeda motor mencoba mendahului mereka dan truk BK 9999 yang bermuatan getah yang juga datang dari arah Sibolga menuju Pandan. Namun dari arah berlawanan muncul sepeda motor jenis automatic dengan kecepatan tinggi, sehingga kedua pengendara saling gugup dan tabrakan pun tak terelakkan. Saat itulah sepeda motor yang ditumpangi korban dan temannya oleng ke arah kiri, tanpa disadari korban yang berada di boncengan terlempar ke badan jalan dan masuk ke kolong truk pengangkut getah, sehingga ban belakang truk melindas tubuh korban dari perut hingga ke wajah. Korban pun tewas di TKP.
Melihat kejadian itu, warga yang ada di sekitar Jalan SM Raja menghampiri korban yang sudah tidak utuh lagi. Petugas lantas Polres Tapteng yang sedang melintas ke arah Pandan langsung menghampiri korban dan menyetop arus lalulintas yang sempat membuat macet di Jalan SM Raja. Berselang sekitar 30 menit, Ambulance milik RSU FL Tobing Sibolga langsung membawa jenazah korban ke kamar mayat RSU FL Tobing Sibolga.
Sementara itu, Elikana Gea pengemudi truk saat ditanyai wartawan di kantor Lantas Polresta Sibolga mengatakan, tidak mengetahui pasti kronologis kejadian yang menyebabkan korban meninggal secara tragis karena terlindas ban belakang truk yang dikemudikannya.
“Saya tidak tahu persis bagaimana korban bisa terlindas truk yang saya bawa, tetapi setahu saya, mereka satu arah dengan saya dan sempat mau melewati truk yang saya kemudikan, setelah itu saya merasakan ada sesuatu yang terlindas lalu saya berhenti dan melihat korban sudah tewas,”akunya.
Mauas Marito br Situmeang (29) kos di Sibolga tepatnya di Jalan Peralihan, Kelurahan Pancuran Kerambil, Kecamatan Sibolga. (Jason Gultom)

Parpol


PAW 3 Anggota DPRD Tapteng Asal PDIP ‘Terkubur’
Pandan, Batak Pos
Pelantikan dan pemberhentian tiga calon anggota Dewan asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tapteng penganti antar waktu (PAW) kemungkinan terkubur (pupus). Pasalnya, jadwal peresmian pelantikan ketiganya sampai saat ini belum jelas alis kabur.
Padahal, Ketua DPRD Tapteng Maratua Siregar sebelumnya telah melayangkan surat kepada Gubernur Sumatera Utara di Medan cq Bupati Tapteng di Pandan bernomor 170/133/2009 tertanggal 4 Februari 2009, perihal peresmian pemberhentian dan pengangkatan anggota DPRD Tapteng tersebut. Bahkan, surat itu ditembuskan langsung ke Ketua KPU Provinsi Sumatera Utara, Ketua DPC PDI-P Tapteng dan Ketua KPUD Tapteng di Pandan.
Dalam suratnya Maratua menyampaikan kepada Gubsu melalui Bupati Tapteng kiranya dapat berkenan meresmikan pemberhentian anggota DPRD Tapteng atas nama Antonius Hutabarat, Halimatusaddiah Nasution, Tulus Hutabarat, dan meresmikan pengangkatan menjadi anggota DPRD Tapteng PAW masa bakti 1999 – 2004 atas nama Syahbullah Silitonga, Jamarlin Purba dan Patarsono Tinambunan.
Ketua DPC PDI-P Tapteng, Jamarlin Purba, selaku salahseorang calon PAW di DPRD Tapteng saat ditemui wartawan di ruangkerjanya di kantor PDI-P Tapteng Jalan Padangsidempuan-Pandan, Kecamatan Pandan, terlihat sudah tidak tertarik lagi membahas permasalahan terkait surat permohonan partainya bernomor 0321/PAW/DPC-TT/X/2008 tanggal 24 Oktober 2008 perihal pergantian antar waktu tersebut.
“Saya sudah tidak berharap membahas masalah itu lagi. Sebab, sesuai informasi yang saya peroleh, kemungkinkan untuk itu sudah tidak ada,”kata Calon Legislatif (caleg) PDIP dari daerah pemilihan (dapil) 2 Tapteng yang wilayahnya mencakup Kecamatan Badiri, Pinangsori, Lumut, Sibabangun dan Suka Bangun ini.
Proses PAW tersebut sudah tidak memungkinkan lagi, Jamarlin saat ini lebih memfokuskan diri menghadapi putaran Pemilu yang berlangsung pada 9 April 2009 mendatang. Ia berharap, partai PDIP Tapteng yang dipimpinnya dapat
meraih hasil maksimal. (Jason Gultom)

Pengamanan Pemilu 2009

Polresta Sibolga Gelar Pasukan Pegamanan Pemilu
TPS Di Daerah Perbatasan Sibolga-Tapteng Rawan
Sibolga, Batak Pos
Untuk mengamankan proses pelaksanaan Pemilu yang tinggal beberapa minggu lagi, jajaran Polres Kota Sibolga gelar upacara pesiapan pengaman Pemilu yang dilangsungkan di lapangan Simaremare, Kota Sibolga, Rabu (11/3). Upacara persiapan inti ini dipimpin langsung oleh Kapolresta Sibolga yang baru, AKBP Jhoni Sebayang yang diikuti personil Polresta Sibolga beserta Kodim 0211, Kodim, TNI AL, Linmas, Satpol PP, Muspida, OKP serta pimpinan partai peserta pemilu.
Dalam amanat Kapolri yang dibacakan Kapolresta ditegaskan, apel gelar pasukan ini merupakan representasi dari kesiapan Polri atas tanggung jawab dan kepercayaan yang dibeikan oleh Negara dan seluruh rakyat Indonesia untuk menjamin kemaman, ketertiban dan kelancaran demi suksesnya penyelenggaraan Pemilu 2009.
“Untuk memberikan rasa keamanan dan kenyaman tersebut diperlukan kesadaran dari seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa menampilkan sikap dan perilaku yang santun dalam berdemokrasi,”kata Kapolri.
Kapolri juga menegaskan, potensi kerawanan yang timbul sebagai sebuah fenomena dalam masyarakat merupakan faktor korelatif kriminogen yang harus dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi kerawanan Kamtibmas yang dapat menggangu pelaksanaan Pemilu. Oleh karena itu, Polri telah menggelar operasi Mantap Brata sejak tanggal 12 Juli 2008 lalu yang bertujuan untuk negawal dan mengamankan jalanya Pemilu mulai dari tahap perencanaan sampai dengan purna Pemilu guna menwujudkan situasi Kamtibnas yang kondusif.
“Dari pengalaman pelaksanaan Pemilu sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa dalam Pemilu 2009 tahap inti terdapat potensi kerawanan yang perlu mendapat perhatian kita dengan seksama. Antara lain, kegiatan kampanye terbuka yang dilaksanakan dalam waktu 21 hari yang diikuti 38 partai politik nasional dan 6 partai lokal di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Untuk itu saya mengajak seluruh warga masyarakat dan semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan Pemilu 2009 untuk turut serta berpartisipasi aktif dalam upaya mewujudkan kondusifitas situasi kemanan dan ketertiban masyarakat selama pelaksaan pemilu,”ajak Kapolri.
Sementara itu menurut Kabag OPS Polresta Sibolga, AKP Marihot Gultom, ada pun jumlah TPS yang akan diamankan di wilayah Kota Sibolga sebanyak 184 TPS, dan dua diantaranya masuk zona rawan, karena lokasinya berada di daerah perbatasan Kota Sibolga dengan Tapteng. “Kedua daerah tersebut adalah adalah di Muara Pinang dan Aek Habil Sibolga. Kerawanan yang terjadi adanya KTP ganda di wilayah tersebut. Untuk itu ditempat sebanyak 368 orang Linmas untuk pengamanan TPS ditambah dengan cadangan sebanyak 157 orang. Selain itu juga, Polresta Sibolga meninta penambahan personil BKO dari Polda Sumut dan tambahan personil dari Kodim 0211 TT sebanyak 1 SST, dan juga personil dari Satpol PP, TNI AL,”jelasnya.
Gelar pasukan ini ditandai dengan pemasangan pita oleh Kapolresta kepada personil dari masing-masing instansi. (Jason Gultom)
KETERANGAN FOTO:Kapolresta Sibolga, AKBP Jhoni Sebayang saat menyematkan pita kepada personil keamanan pada upacara gelar pasukan pengamanan Pemilu 2009 yang dilaksanakan di Lapangan Simaremare Sibolga, Rabu (11/3). (Batak Pos/Jason Gultom
)

Selasa, 10 Maret 2009

Jelang Pemilu 2009

Bahan Logistik Pemilu Tiba di KPU Tapteng
Sebahagian Kertas Suara Rusak
Pandan, Batak Pos
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupten Tapanuli Tengah akhirnya menerima bahan logistik dari KPU Pusat dan Provinsi Sumatera Utara. Ada pun bahan logistik yang baru diterima KPU Tapteng ini adalah, segel kertas suara sebanyak 31.414 keping, tinta 1.013 botol, surat suara DPR-RI sebanyak 192.684 lembar, surat suara DPRD Provinsi sebanyak 192.684 lembar, ditambah dengan surat suara DPD sebanyak 192.684 lembar. Selain itu juga KPU Tapteng menerima Formulis C4 sebanyak 12 buah, Formulir A5 1buah, spidol 5 buah dan gembok 9 buah.
Demikian disampaikan Firman Lubis SH selaku Devisi Humas KPU Tapteng kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (10/3). “Kita menerima bahan logistik ini secara bertahap, jadi tidak serentak, seperti kertas suara DPR-RI dan DPD kita terima sekitar 10 hari yang lalu, sedangkan untuk DPRD Provinsi sekitar 1 Minggu yang lalu,”jelasnya.
Disinggung tentang kondisi surat suara yang sudah tiba Firman mengakui, bahwa pihaknya ada menemukan kertas suara yang rusak, seperti sobek atau tidak jelas tulisannya, hanya saja pihaknya belum dapat merincikan berapa banyak kertas suara yang rusak tersebut, karena saat ini sedang dapam proses pelipatan.
“Memang kita menemukan beberapa kertas suara yang rusak, baik itu dari DPR-RI, DPD dan juga DPRD Provinsi, namun kita belum dapat memastikan berapa jumlahnya, karena saat ini masih dalam proses pelipatan. Jika proses pelipatan sudah selesai baru dapat kita pastikan berapa kertas suara yang rusak untuk kita laporkan ke KPU Pusat dan Provinsi,”jawabnya.
Firman juga menambahkan, ada pun jumlah kertas surat suara khusus DPRD Tapteng sebanyak 192.684 lembar dengan perincian: Dapil I 47.724 lembar, Dapil II 44.376 lembar, Dapil III 48.571 lembar, dan Dapil IV 51.911 lembar.
Lebih lanjut dijelaskan Firman, pihaknya harus bekerja keras untuk menyalurkan kertas suara tersebut ke wilayah Tapteng, dimana Tapteng memiliki 20 Kecamatan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku, 10 hari sebelum hari pelaksanaan, kertas suara sudah tiba di masing-masing TPS. “Untuk mengantisipasi hal itu KPU Pusat sudah mengadakan kerjasama dengan pihak TNI Polri untuk membantu menyalurkan barang logistik atau kertas suara ini ke masing-masing TPS. Artinya dengan adanya kerja sama ini, maka TNI Polri akan bekerjasama dengan KPU Daerah untuk menyalurkan surat suara ini sampai ke TPS masing-masing. Atas dasar itulah kita berusaha sepuluh hari sebelum hari pelaksanaan, semua bahan logistik dan kertas suara sudah akan tiba dimasing-masing TPS,”katanya.
Sementara itu hasil amatan koran ini di kantor KPU Tapteng, masyarakat Pandan tampak ramai memenuhi pelataran kantor KPU Tapteng, karena warga setempat ini mendapat pengasilan tambahan dari hasil melipat kertas. (Jason Gultom)

Melirik Lebih Dekat Keberadaan Hutan Batang Toru

Hutan Batang Toru Harta Karun Tapanuli
Nilai Total Ekonomi Rp 3,6M/Tahun
Taput, Batak Pos
Hutan Batang Toru adalah harta karun Tapanuli. Hutan ini memiliki kekayaan alam yang masih perawan (virgin forest). Hutan Batang Toru ini memiliki dua kawasan hutan, yakni Hutan Dolok Ginjang (HDG) seluas 8.223.837ha dan Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB) seluas 18.262,35ha di Kecamatan Adian Koting (45762.70ha) yang merupakan dua kawasan penting. Hutan Dolok Ginjang merupakan habitat utama Hariamu Sumatera yang masih tersedia. Sedangkan Hutan Batang Toru Blok Barat menyimpan 67 jenis mamalia, 287 jenis burung, 110 jenis herpetofauna dan 688 jenis tumbuhan. Berdasarkan status konservasinya, terindikasi 20 spesies di dalam status terancam, utamanya habitat orangutan dan Harimau Sumatra yang masih ada di kawasan Tapanuli.
Di kawasan HBTBB terdapat 60 sub DAS (Daerah Aliran Sungai) dengan total luasan daerah 211,690 ha dimana sub DAS terbesarnya dalah sub DAS Pinangsari seluas 9,209 ha yang memiliki perimeter sepanjang 66,113 meter dan sub Das terkecilnya dalah Sialang dengan luas hanya 301.8ha dan perimeter sepanjang 14,959 meter.
Menurut penjelasan Monang Ringoringo selaku Ketua PETRA (Perkumpulan Pengembangan Partisipasi Untuk Rakyat) kepada koran ini baru-baru ini menjelaskan, berdasarkan Dokumen Conservation International (2006) menyimpulkan, total nilai ekonomi nilai guna tak langsung Hutan Batang Toru, seperti untuk penahan bencana, pengatur air, pencegah erosi sebesar Rp69.212.225.920 per tahunnya, dan total nilai guna langsung berupa hasil hutan kayu, pariwisata, PLTA, PLTP tambang emas mencapai Rp3.563,078,680,128 per tahunnya. Sehingga nilai total ekonomi kawasan Hutan Ekosistem Batang Toru sebesar Rp3.632.290.906,48 per tahun.
Kawasan HBTBB juga merupakan pemukinan 53 Desa di 10 Kecamatan yang berada di 3 Kabupaten yang merupakan kawsan ulayat dari suku Batak Toba, Mandaling dan Angkola. Keberadaan spesies kunci dalam kawasan HBTBB dan hutan Dolok Ginjang sebagai indikator dari adanya kekayaan keanekaragaman hayati. Sehingga areal tersebut mejadi penting dari sisi konsrevasi keanekarangman hayati yang masih ada. Keberadaan dua spesies ini juga berpotensi pula menimbulkan konflik manusia-satwa yang serius sehingga diperlukan membuat suatu kajian bersama masyarakat untuk menyatakan kedua kawasan tersebut dengan koridor penghubung, agar gerak dan jelajah dari berbagai jenis satwa tidak terganggu dikemudian hari.
“Berdasarkan data yang yang kita himpun dan data ground chek, di kawsan Hutan Dolok Ginjang, terdapat konsesi PT TPL di kawsan Dolok Ginjang, di enam desa yang berbatasan dengan HBTBB, dimana salah satu hulu Aek Sipansihaporas di Desa Adiankotong dan Desa Sibalanga. Akibat rendahnya nilai penghasilan dan tekanan ekonomi, beberapa masyarakat ikut tergiur melakukan penebangan kayu hutan kepada agen kayu atau dijual untuk kayu bakar dan juga untuk bahan papan bangunan. Dampak dari konsesi PT TPL setelah beroperasi kembali menimbulkan degradasi hutan yang cukup memperihatinkan di bagian Utara dan Timur hutan Register 18,”jelasnya.
Ia juga menegaskan, di dalam kawsan HBTBB terdapat 3 industri destruktif (PT TPL, PT Teluk Nauli dan Agicourt), yang sangat berdampak pada kondisi pelestarian habitat orangutan, Harimau Sumatera, kondisi tutupan hutan, yang kesemuanya memberikan dampak negatif bagi sumber penghidupan manusia yang bermukim di tepi hutan, serta 2 industri yang membutuhkan kelestarian hutan dan sungai, seperti PLTP PT Medco dan PT PLN di Sipansihapora Tapteng dan Aek Raisan.
Tumpang Tindih Penataan Kawasan
“Di kawasan HBTBB ini ditemukan beberapa permasalahan tumpang tindah penataan kawasan diantaranya, kawasan yang ditetapkan sebagai hutan lindung seluas 7.800 ha didalam HBTBB ternyata bertumpang tindah dengan kawasan eksplorasi pertamabgan emas dan perak. Adanya tumpang tindah tanah pengguna masyarakat dengan kawasan huta seluars 32.573ha, serta kawasan hutan lindung yang bertumpang tindah dengan kawasan eksplorasi/eksploitasi geothermal, yang rencananya akan dibangun menjadi Pembangkit Listrik Tenga Panas Bumi,”ungkap Ringoringo
Lebih lanjut ia membeberkan, sesuai dengan hasil overlay yang dimasukkan ke dalam peta GIS, ternyata konsesi PT TPL dan PT Teluk Nauli tumpang tindih, padahal dikeluarkan pada tahun yang sama. HPH PT Teluk Nauli (blok Anggoli) seluas 83.000ha, dalam hutan alam dari perusahaan PMDN berdasarkan SK.414/Kpts-II/2004 tetanggal 19 Oktober 2004, dan PT TPL dengan konsesi seluas 269.060 ha sesuai dengan SK.351/Menhut-II/2004 tertanggal 28/9/2004. Jika diamati dari berbagai data perijinan yang berlaku, ternyata tumapang tindihnya kawasan tersebut akibat dari kesalahan urus kawasan hutan oleh Pemprovsu dan Dinas Kehutan (BPKH)/Dinas Kehutan Provinsi dan Kabupaten, hingga Pemerintah Pusat melalui Menteri Kehutanan RI. Dimana titik sentral kasus ini pasti berasal dari elit pemerintah Pusat RI. “Untuk itu kami meminta agar pemerintah mencabut indsutri destruktif di kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat,”tegasnya. (Jason Gultom)

Senin, 09 Maret 2009

Agama

Ephorus Lutheran Belanda Bertemu Dengan Tokoh Agama Tapteng
Pandan, Batak Pos
Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church Ilona Fritz, Sekretarisnya Coby, mantan Dosen Sekolah Tinggi Theologi (STT) Pematangsiantar, Saparini Siregar beserta rombongan bertemu dengan tokoh agama Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) di ruangan Cendrawasih Kabupaten Tapteng, Sumatera Utara, Sabtu (14/2).
Pada pertemuan tersebut, Ilona Fritz selaku Ephorus dari Negara Belanda itu mengatakan tujuan mereka datang dan bertemu dengan tokoh agama di kabupaten Tapteng karena ingin melihat kehidupan umat beragama di kabupaten Tapteng yang rukun dengan berbeda agama, juga ingin berbagi pengalaman dengan para tokoh agama.
“Saya dan keluarga tinggal di Amsterdam Negara yang kebanyakan penduduknya kebanyakan pendatang dari berbagai Negara, seperti Suriname, Afrika, Asia dan Negara bagian Timur. Kami hidup bersama dengan menghadapi berbagai budaya dan agama dan kami membangun gereja, masjid dan tempat beribadah agama budha dan agama lainnya,” tuturnya menggunakan bahasa Inggris yang diterjemahkan penerjemahnya J Matondang.
Dikatakannya, berbeda pada tahun 2002 lalu, dimana salah satu pesawat jatuh ke Negara Amerika dan membuat banyak orang meninggal dunia dari berbagai agama yang berbeda, sehingga membuat konflik baru di Negara-negara Eropa.
“Pada saat itu kita sama-sama berduka, membantu dengan sama-sama membangun perkumpulan. Selain itu, juga kita ketahui ada berbagai konflik di seluruh dunia, seperti konflik di Israel, Afganistan dan konflik dibeberapa kota lainnya. Dan kedatangan kami kesini untuk melihat langsung bagaimana kerukunan umat beragama dapat terjalin dengan berbeda budaya dan agama di Indonesia khususnya Tapteng,” jelasnya.
Amatan Batak Pos pada pertermuan tersebut, antara rombongan Ephorus dari Belanda tersebut, bertukar pengalaan dengan para tokoh agama di Kabupaten Tapteng untuk dapat menjadi masukan menerapkan kerukunan beragama, dengan kondisi penduduknya yang beragam budaya, suku dan agama.
Sementara itu, Pdt Sutoyo Virajayo SAg perwakilan dari agama Budha yag ada di Sibolga-Tapteng mengatakan, meskipun berbagai agama, budaya dan suku ada di Sibolga-Tapteng, namun kerukunan umat beragama terjalin dengan baik.
“Hal tersebut, terlihat pada saat perayaan hari-hari besar agama Budha masyarakat yang beragama Islam dan Kristen bersama-sama dengan kami memasak dan menghidangkan masakan yang disantap bersama-sama. Selain itu, meskipun di kota Sibolga ini hampir 95 persen umat Budha tersebut, dari etnis Cina dan 5 persen lagi dari suku jawa, batak dan lainnya,” jelas Pdt Sutoyo sembari mengatakan sudah bertugas di Sibolga-Tapteng selama 22 tahun sejak tahun 1987 sampai 2009.
Dikatakannya, berhimpunnnya pimpinan agama di FKUB, kerukunan umat beragama dapat selalu terjalin, karena setiap ada masalah dapat diselesaikan dengan cara musyawarah.
Pdt Maringan Simamora, STh selaku Ketua Badan kerjasama Antar Gereja (BKAG) wilayah Tapteng mewakili umat Kristen mengatakan, pengalaman terjalinnya kerukunan agama di Kabupaten Tapteng, karena masih adanya ikatan keluarga dan masih menganggap satu rumpun atau kampung tanpa membicarakan apa agama yang dianut.
“Masing-masing agama mempunyai kebenaran menurut penganutnya. Harapan kita dengan duduk bersama pemuka agama juga dapat membuat duduk bersama para umat beragama,” katanya.
Sementara itu, ketua MUI Tapteng, Ngadiman KS mewakili umat Islam menjelaskan bahwa Islam adalah rahmatan lilalamin, dimana dalam menjalin kerukunan umat beragama, umat Islam tidak pernah mencampuri agama lain, sehingga dari dulu kekeluargaan dan kerukunan umat beragama yang berbeda tetap terjalin.
“Sebenarnya, tidak dipungkiri bahwa budaya perpecahan yang sampai saat ini masih terjadi di Indonesia merupakan budaya peningggalan Negara Belanda pada saat menjajah Indonesia yang disebut dengan pecaha belah dan kuasai (Devide et Impera),” katanya.
Turut memberikan pengalaman dan masukan akan kerukunan umat beragama yang terus terjalin di Indonesia, khususnya di Kabupaten Tapteng, yakni kepala kantor Departemen Agama kabupaten Tapteng, Drs Dur Brutu, dan mewakili GAMKI Tapteng.
Mendengar keterangan para tokoh agama di Kabupaten Tapteng, Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church, Mrs Ilona menurutkan, bahwa dengan terpilihnya Barack Obama Husein sebagai presiden Amerika Serikat dapat membawa kebiasaan baru di Negara-negara Eropa yang selama ini memandang nama berbau Islam dianggap teroris.
Menurutnya, semua orang hidup dalam kebebasan dengan berbagai budaya, agama dan suku dan usai perang dunia II (kedua) Negara Belanda banyak berubah dengan banyaknya kebudayaan dan agama. “Saya senang dapat ide-ide untuk menjalin kerukunan beragama yang harus dimulai dari bawah. Kami di Amsterdam juga hidup damai dari berbagai agama dan kebudayaan dan berharap terjalinnya kerukunan bergama merupakan perjalanan panjang yang harus dilakukan,” ujarnya.
Usai saling tukar pengalaman untuk menjalin kerukunan beragama antara kedua Negara yakni Indonesia dan Belanda, Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church bersama rombongan di ulosi sebagai tanda kerukunan umat beragama di Tapteng masih erat, sekanjutnya rombongan Ephorus foto bersama dengan para tokoh agama di depan kantor Bupati Tapteng. (Jason Gultom)
Keterangan Foto
Ephorus Lutheran Belanda Diulosi
Ephorus of the Lutheran Synod of the Protestant Church Ilona Fritz foto bersama dengan Wakil Bupati Tapteng usai diulosi pada pertemuan diskusi kerukunan umat beragama. Menurut Ephorus Gereja Lutheran Belanda ini, ia salut atas kehidupan kerukunan umat Beraga di Indonesia khususnya di Tapteng. (Batak Pos/Jason Gultom)

Kabar Gembira


Pemkab Tapteng Buka Lowongan Perawat PTT
Tapteng, Batak Pos
Ini adalah kabar gembira bagi tenaga kesehatan khususnya bidang keperawatan. Dimana Departemen Kesehatan (Dekes) RI akan memberikan peluang bagi tenaga keperawatan lulusan Diploma Tiga (D3) dan S1untuk direkrut menjadi tenaga PTT (Pegawai tidak tetap). Demikian disampaikan Kadis Kesehatan Pemkab Tapteng, Hajopan Simanjuntak SKM pada acara peresmian Puskesmas di Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu(25/2).
Menurut Kadis, surat penerimaan tenaga PTT keperawatan telah dikirimkan dari Dekpes RI ke Pemkab Tapteng, selanjutnya Pemkab Tapteng memberikan usulan penerimaan tenaga PTT untuk wilayah Pemkab Tapteng ke Depkes. “Setelah kita menerima surat pemberitahuan tersebut, kita langsung kirimkan surat usulan penerimaan untuk wilayah Pemkab Tapteng. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada surat persetujuan dari Depkes,”katanya.
Dengan dibukanya peluang ini lanjut Hajopan, maka laju pembangunan khususnya dibidang kesehatan di Tapteng ini akan terus meningkat. Karena banyak putra-putri dari daerah ini yang berpendidikan keperawatan tidak memiliki kesempatan untuk mengabdi sebagai tenaga medis karena tidak adanya peluang.
“Selama ini yang diberikan pemerintah peluang untuk PTT adalah bidan dan dokter, dan baru kali ini ada terobosan yang meberikan kesempatan yang sama kepada tenaga perawat. Kita sangat menyambut baik dengan peluang yang diberikan pemerintah pusat ini. Saya berjanji setelah keluar surat persetujuan dari Depkes, maka putra-putri bapak yang memiliki pendidikan D3 dan S1 keperawatan agar segera mendaftar, karena kita sangat mengutamakan putra-putri daerah kita ini,”sebut Hajopan yang disambut tepuk tangan masyarakat Kecamatan Pasaribu Tobing yang menghadiri acara peresmian pengoperasian Puskesmas Pasaribu Tobing.
Pada kesempatan itu juga, Dinas Catatan Sipil Kependudukan dan Keluarga Berencana Pemkab Tapteng turut hadir untuk meberikan bantuan bagi masyarakat Kecamatan Pasaribu Tobing. Ada pun bantuan yang diberikan langsung oleh Budiman Ginting SH selaku Kadis Capil Kependudukan dan KB berupa alat KB IUD (khusus untuk perempuan dan alat KB Pasectomy (khusus laki-laki). (Jason Gultom)

Pendidikan Itu Memang Mahal

Sebanyak 1.884 Perserta Ikuti Seleksi Masuk UI di Tapteng
Pandan, Batak Pos
Keseriusan Pemkab Tapteng untuk meningkatkan mutu pendidikan semakin nyata. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerjasama antara Pemkab Tapteng dengan Universitas Indonesia (UI) untuk melaksanakan seleski ujian masuk UI yang diselenggarakan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Minggu (1/3) sebanyak 1.884 orang putra-putri Sumatera Utara (Sumut) adu kemampuan untuk dapat lolos menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Sebanyak 7 sekolah menjadi tempat perserta melaksanakan ujian, diantaranya, SMA Negeri 1 Matauli Pandan, SMP Al Muslimin, SMP Negeri 1 Pandan, SMP Negeri 2 pandan Nauli, SD Fransiskus , SMP Fransiskus dan SMA Fransiskus.
Dari 1.884 pendaftar yang mengikuti ujian test masuk UI ini, sebanyak 2 orang peserta mengikuti program S2 dan S3. Sedangkan tim pemantau materi ujian dari Universitas Indonesia diturunkan sebanyak 7 orang, terdiri dari Ebi Junaidi selaku Kordinator, Anondo Wijanarko, Budi Sudiarto, Eka Putra Pratama, Encim Sutisna, Rukhyat dan Sudarmaji, masing-masing anggota.
Sementara itu menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan, Drs Sumartono selaku panitia lokal didampingi Kabid SMP Dinas Pendidikan Tapteng, Drs Kolose Harahap kepada Batak Pos, Sabtu (28/2) mengatakan, diselenggarakannya seleksi masuk UI ini atau yang lebih dikenal dengan (SIMAK-UI) di Kabupaten Tapteng, karena hubungan dan kerjasama yang baik antara Pemkab Tapteng dengan UI serta kemitraan di bidang Pendidikan.
“Ini tidak terlepas dari upaya Bupati kita, Drs Tuani Lumbantobing untuk meningkatakan pendidikan di Tapteng ini. Jadi, dengan adanya kerjasama ini Pemkab Tapteng telah membantu putra-putri Tapteng secara khusus dan umumnya Sumatera Utara, karena mereka tidak perlu jauh-jauh lagi berangkat ke Jakarta hanya untuk mengikuti ujian. Dengan diseleggarakannya SIMAK-UI di Tapteng ini sudah lebih irit biaya,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, kerjasama Pemkab Tapteng dan UI juga diteruskan SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan yang terkait dengan tempat pelaksanaan SIMAK-UI. “Kalau selama ini ada tanggapan yang menyebutkan kuliah di UI hanyalah orang-orang tertentu yang mampu dari segi materi, dengan diselenggarakannya SIMAK-UI yang berlokasi di Tapteng semua putra-putri Sumut bisa menimbah ilmu di UI asalkan dapat lolos dalam seleksi ini,” ujarnya.
Sementara itu menurut Drs Kolose selaku Kabid SMP Dinas Pendidikan Tapteng menyebutkan, jika dipandang dari aspek pendidikan, maka seleksi ini dapat memotivasi para pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di UI, dan juga dapat menjadi uji coba profesionalisme guru di daerah Kabupaten Tapteng ini. “Ini menjadi barometer kedepan, dengan suksesnya pelaksanaan ujian ini tidak tertutup kemungkinan Universitas lainnya seperti UGM dan universitas terkenal lainnya akan melakukan hal yang sama nantinya. Kita berharap agar pelaksanaan SIMAK-UI ini dapat berlangsung dengan baik,”harapnya.
Ditanya berapa jumlah pengawas yang dilibatkan dalam pelaksaan ujian ini, ia mengatakan, panitia telah mempersiapkan 190 lebih guru yang berpendidikan Sarjana yang ada di Tapteng
Sementara itu menurut Ebi Junaidi selaku kordinator tim pemantau materi ujian UI mengatakan, jumlah yang akan diterima dari SIMAK-UI ini lebih banyak dari system perekrutan lainnya, yakni sebesar 56 persen dari jumlah kuota keseluruhan mahasiswa yang akan diterima di UI.
Ia menambahkan, sistem SIMAK-UI dilaksanakan serentak di 35 kota di Indonesia ditambah 1 di Kualalumpur, dengan jumlah pendaftar mencapai 80 ribu orang.
Untuk menjaga keamanan peserta ujian, Panitia telah bekerja sama dengan Pihak Polres Tapteng, Satpol PP, Dishub Tapteng. Khusus untuk tenaga polisi, Polres Tapteng menurunkan 100 orang personilnya yang ditempatkan di penginapan, hotel, dan tempat-tempat pelaksanaan ujian. (Jason Gultom)

Bagaimana Nasib Protap???


Gagasan Pembentukan Protap Bukan Sesuatu Yang Terlarang
Pandan, Batak Pos
Ditundanya pembahasan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) akibat aksi anarkisme yang terjadi di gedung DPRD Sumut beberapa waktu lalu, mendapat tanggapan serius dari Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Tapanuli (LKBH). Menurut Sanggam Tambunan SH selaku ketua LKBH Tapanuli menegaskan, bahwa gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) bukanlah sesuatu yang terlarang.
“Terwujudnya Propinsi Tapanuli murni aspirasi dari masyarakat Tapanuli, dan itu adalah hak masyarakat. Karena itu adalah aspirasi dari masyarakat, maka masyarakat yang menggagasi terbentuknya Protap harus dilindungi oleh hukum, bukan sebaliknya,”tegas Sanggam kepada Batak Pos saat ditemui di kantornya, Kamis (27/2).
Menurut Sanggam, kenyataan saat ini ada kecenderungan orang yang menggagasi pembentukan Protap ikut diseret-seret dalam peristiwa 3 Februari lalu. Seharunya orang yang melakukan peyimpangan sehingga terjadi aksi anarkis itulah yang harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negeri ini, bukan orang atau masyarakat yang menggagasi terbentuknya Protap ikut diseret-seret, karena gagasan pembentukan Protap bukan sesuatu yang salah, atau terlarang.
“Disinilah saya melihat sepertinya ada tekanan-tekanan politik dalam menyelesaikan aksi anarkisme yang terjadi di gedung DPRD Sumut Februari lalu. Kita setuju oknum-oknum yang melakukan aksi kekerasan itu harus ditindak tegas, karena apa pun alasannya tindakan itu tidak dapat dibenarkan, namun orang yang menggagasi pembentukan Protap justru harus dilindungi hukum, karena hak memisahkan diri dari satu Negara dilindungi hukum Internasional, apalagi ini hanya memsisahkan diri dari Propinsi. Jadi harus ada perlindungan hukum kepada mereka yang menggagasi pembentukan Propinsi Tapanuli,”tegasnya.
Untuk itu lanjut pria berkulit putih ini, aparat hukum harus bertindak secara provorsional dan profesional serta dapat membedakan mana tindakan yang terlarang dan mana tindakan yang harus dihormati secara hukum. “Saya hanya meminta dalam menyelesaikan persoalan ini jangan ada politisasi hukum, karena akan menimbulkan masalah yang lain,”harapnya.
Katakan Ya, kalau Ya, Katakan Tidak, Kalau Tidak!
Menurut Sanggam, terjadinya aksi anarkis di gedung DPRD Sumut bulan Feburai lalu karena ada yang tersumbat dan tarik menarik kepentingan dan wilayah. Seharunya DPRD harus mengambil sikap yang tegas tehadap aspirasi ini. “Seperti yang kita ketahui DPRD Sumut tidak memberikan jawaban tegas dalam menyikapi aspirasi pembentukan Protap ini, sehingga ada kekecewaan dikalangan masyarakat yang menginginkan pemekaran segera terwujud. Seharusnya DPRD harus berani memberikan jawaban ya kalau ya, tidak kalau tidak,”sebutnya.
Jangan Ada Anak Tiri dan Anak Kandung
Lebih lanjut Sanggam menilai, dialam reformasi saat ini seharusnya tidak ada lagi istilah anak tiri dan anak kandung. Namun, pada kenyataanya hal itu masih terjadi. “Sebagai contoh, ada beberapa wilayah yang meminta dimekarkan, dalam tempo yang tidak lama sudah terealisasi, sementara gagasan pembentukan Protap sudah lama disuarakan namun sampai saat ini belum terwujud justru ditunda. Seharunya pembahasan Protap harus terus dilaksanakan dan proses hukum terus lanjut. Disinilah kita melihat masih ada istilah anak tiri dan anak kandung itu,”kata Sanggam seraya mengajak agar para elit politik membaca buku karangan Lance Castles yang judulnya Politik Suatu Kesadaran di Sumatera: Tapanuli. (Jason Gultom)
Masyarakat Karo Sibolga Tapteng Sambut Kapolresta Sibolga Yang Baru

Mburo Ate Tedeh, itulah sebahagian adat masyarakat karo untuk menyambut tamu atau tokoh masyarakat Karo yang baru datang ke suatu daerah. Adat Mburu Ate Tedeh ini biasanya dirangkai dengan musik keyboard gendang karo dan penampilan penari sekaligus penyanyi karo yang dikenal dengan sebutan (Perkolong-kolong). Nuansa itulah yang terlihat saat ratusan masyarakat Karo yang berdomisili di Sibolga-Tapteng sewaktu menyambut kehadiran Kapolresta Kota Sibolga yang baru yaitu AKBP Jhony Sebayang bersama dengan isteri boru Taringan.
Acara penyambutan ini dilangsungkan di Gedung Hermina Sarudik, Minggu (8/3). Masyarakat Karo Sibolga-Tapteng yang jumlahnya sekitar 300 KK larut dalam suasana kekeluargaan saat menyanyikan tembang-tembang karo yang diikuti dengan lenggak lenggok tarian karo.
Pada pertemuan itu, pengurus merga (Marga) Silima yang ada di Sibolga-Tapteng menyampaikan ucapan selamat datang bagi Kapolresta Sibolga AKBP Jhony Sebayang yang merupakan putra terbaik masyarakat karo. Dalam sambutannya, Drs Ngalemi Sembiring Brahmana yang merupakan salahsatu pengurus Merga Silima Sibolga-Tapteng didampingi Benyamin Taringan yang juga Kadis Perindag Kota Sibolga mengucapkan selamat datang kepada Kapolres AKBP Jhony Sebayang yang baru bertugas di Sibolga.
“Kami masyarakat karo yang ada di Sibolga-Tapteng ini menyambut kehadiran orangtua kami bapak Kapolresta beserta dengan ibu. Kami masyarakat karo yang ada di dua daerah ini siap mendukung kinerja pak Kapolresta, dan kami juga sangat mengharapkan partisipasi dari pak Kapolresta untuk memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat karo yang ada didua daerah ini,”katanya.
Lebih lanjut dikatan mereka, kehadiran sosok AKBP Jhony Sebayang, mengingatkan mereka akan kehadiran beberapa pejabat marga karo yang telah bertugas di Sibolga Tapteng ini. Diantaranya, Dandim 0211 TT, Danrem, Kepala PM, Kejaksaan, Pengadilan, dan masih banyak lagi jabatan lainnya. Namun yang menduduki jabatan Kapolres baru lah AKBP Jhony Sebayang. “Atas dasar itulah, kami merasa bangga atas jabatan yang baru bapak emban saat ini, kami siap untuk mendukung tugas-tugas Negara yang dibebankan kepada bapak,”katanya.
Sementara itu Kapolres Kota Sibolga AKBP Jhony Sebayang dalam sambutannya, mengaku terharu dan bangga atas penyambutan tersebut. “Kehadiran saya ke tempat ini tidak menjadikan saya sebagai orang asing, karena banyak orangtua saya dan keluarga saya di tempat ini. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih atas sambutan yang luar biasa ini. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat karo agar jangan melakukan tindakan atau pelanggaran hukum, karena apa pun alasannya kalau sudah melakukan tindakan pidana atau kejahatan harus berurusan dengan hukum,”tandasnya.
Pada kesempatan itu juga dilanjutkan dengan pemberian Uis Beka Buluh (Kain adat karo) kepada Kapolresta beserta dengan istri yang disampaikan oleh pengurus Merga Silima Sibolga-Tapteng yang diiringi musik Odak-odak Karo yang khusus didatangkan dari tanah karo. Acara ini pun berlangsung khitmad dan penuh dengan kekeluargaan. (Jason Gultom)

Sabtu, 07 Maret 2009

Sudah Saatnya Hutan Batang Toru Menjadi Hutan Lindung

Taput, Batak Pos
Mata publik saat ini tertuju akan keberaan Hutan Batang Toru yang letaknya berada di 3 wilayah kabupaten di Tapanuli, yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Hutan Batang Toru dengan luas hutan primer 136.284 hektare yang terdiri atas kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat (KHBTBB) seluas 81.344 ha, dan Kawasan Hutan Batang Toru Blok Timur (KHBTBT) seluas 54.940 ha. Di kawasan ini keanekaragaman hayati berupa satwa-satwa langka yang dilindungi seperti, orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, Tapir, Kambing Hutan, Beruang dan puluhan jenis burung, ditambah lagi keberadaan tumbuh-tumbuhan liar yang telah langka ada di tempat ini. Atas dasar itulah, hutan Batang Toru ini diharapkan sebagai kawasan Hutan Lindung.
Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang berkantor di Medan , Sumatera Utara terpanggil untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang keberadaan Kawasan Hutan Batang Toru ini. Yayasan ini mengadakan kunjungan lapangan dan diskusi jurnalis selama dua hari mulai tanggal (4-6/3) di dua wilayah, yaitu, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah. Tujuan dari diskusi ini adalah, mengungkap pentingnya revisi atas SK Menhut no 44 tahun 2005 untuk mendukung penyelamatan Kawasan Hutan Batang Toru (KHBT). Memberikan pemahaman pentingnya terbentuknya kawasan Hutan Batang Toru sebagai hutan lindung. Mendorong partisipasi berbagai pihak baik masyarakat, pengambil kebijakan dan private sector untuk melindung Kawasan Hutan Batang Toru. Serta Mendorong terbitnya komitmen pemerintah tiga kabupten untuk merevisi kawasan Hutan Batang Totu menjadi hutan lindung.
Dari hasil kunjungan YEL bersama dengan wartawan ke kawasan Hutan Batang Toru yang berada di Dusun Aek Matio Jae, Desa Adian Koting, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, warga setempat sangat mendukung dan menyambut baik jika kawasan tersebut dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung. “Kami masyarakat Dusun Aek Matio Jae ini sangat mendukung jika kawasan Hutan Batang Toru ini dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung, karena kami dapat merasakan keindahan alam dan kelestarian daerah kami ini yang berdampak terhadap penghasilan kami sebagai petani dan pemilik kebun,”kata warga Dusun Aek Matio Jae, diantaranya, Uti Simanungkalit, Ali Rahmad, R Panggabean.
Menurut warga, hasil kebun mereka seperti, kemenyan, karet, coklat masih mampu memberikan hasil yang lumayan dengan terjaganya kawasan hutan Batang Toru, walau pun acap kali harga komuditi tersebut tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluargkan.
Sama halnya dengan PLTA Sipansihaporas yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dimana Pembangkit Listrik Tenaga Air ini menjadikan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang berada di Kawasan Hutan Batang Toru sebagai mesin penggerak turbin. Menurut Manajer PLTA Sipansihaporas, Abdul Rasyid, pihaknya mendukung sepenuhnya kawasan Hutan Batang Boru dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung. “PLTA Sipansihaporas ini membutuhkan debit air normal sebesar 28m3/detik untuk menghasilkan daya listrik sebesar 50MW. Kami sangat setuju jika kawasan Hutan Batang Toru ini dijadikan sebagai Kawasan Hutan Lindung,”harapnya.
Selain PLTA Sipansihaporas, ada tiga lagi PLTA yang memanfaatkan DAS Hutan Batang Toru, diantaranya, PLTA Adek Sibundong, PLTA Aek Raisan I dan Aek Raisan II, dan termasuk mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Sarrulla yang bergantung ketertutupan kawasan Hutan Batang Toru dalam rangka menjamin keberlangsungan panas bumi yang ada di kawasan ini.

Dengan banyaknya dampak positif dari keberadaan kawasan Hutan Batang Toru ini ditambah lagi dengan niat baik Dinas Kehutan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten terhadap status kawasan Hutan Batang Toru, maka diharapkan Menteri Kehutanan RI dapat menyembut baik pelestarian Hutan batang Toru yang digagas oleh Pokja Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB guna mewujudkan kesempatan mendapakan jasa carbon dan nilai ekonomi sumber daya air dikemudian hari bagi 3 kabupaten (Taput, Tapteng, Tapsel). (Jason Gultom)

Jumat, 15 Februari 2008

Boa-Boa Sian Huta: Sejarah Uang ORITA (Oeang Reopublik Tapaeonuli)

Boa-Boa Sian Huta: Tahukan Anda Cerita Lagu BUTET?

Boa-Boa Sian Huta: Tolak Bala Nelayan

Melirik Ritwal Parmalim di Balige

Spritual

Melirik Ritwal Agama Malim
di Balige
Acara ritual yang biasa dilakukan di komunitas Malim SiJangkon uras untuk mendoakan, dan untuk memohon sesuatu kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa). Yang menjadi thema dalam acara yang baru-baru ini dilaksanakan di makam Raja Sisinga Mangaraja ke XII di Balige, Tobasa, adalah agar adat dan hukum dapat tertata dengan baik jangan rusak dan betul-betul dilakukan. Dengan tertatanya Adat dan Hukum dapat menjadi kemajuan terutama di Bangso Batak seperti pepatah Batak yang mengatakanJumpang “Naniluluan dapot nanijalahana itu akan tercapai apabila adat dan hukum tertata dapat dijalankan dengan baik”.
Acara ritual ini dilaksanakan atas persetujuan dari kaum komunitas Malim yang sudah sepakat untuk meminta doa kepada Debata Mulajadi Nabolona sesuai kesepakatan raja-raja dan inang soripada, dengan Martonggo apa yang diminta semoga dapat dikabulkan. Pasalnya saat ini sudah banyak terjadi musibah bencana alam seperti Tsunami, bencana longsor dan Gunung berapi meletus. Walau pun bencana tersebut tidak terjadi di Daerah Tobasa, Balige, namun komutas Malim turut iktu merasakan atas musibah yang dialami sesama umat manusia diBumi ini. Oleh karen itu komunitas Malim Si Jangkon Uras berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon agar permohonan mereka dapat dikabulkan.
Uluan (pimpinan) Ritual dipimpin oleh Op. Dongguk Siahaan dari berbagai Desa yakni Panamparan, meranti tegah, Batu mamak, Pintu pohan Meranti dabn lainya sekira Ratusan orang. Ritual ini sejak pagi hari dilaksanakan, mulai persiapan bahan untuk persembahan kepada Debata Mulajadi Nabolon melalui Op Sisingamangaraja XII. Setelah bahan dipersiapkan, terlebih dahulu meminta ijin kepada Op Sisingamangaraja XII yaitu dengan membawa bahan untuk persembahan seperti aek mual natio (air bersih), jeruk purut, dan lainnya yang diperlukan pada acara ritual itu ke makam Op. Sisingamangaraja XII.
Biasanya pada acara ritual Martonggo ini, para penganut kepercayaan Malim turut mempersembahkan hasil bumi mereka untuk disajikan dan seraya berdoa agar kaum komunitas Malim dapat diberikan kesehatan dan mendapat hasil panen yang berlimpah dan dijauhkan dari bala.
Menurut pemaparan Op. Dongguk Siahaan, Malim pada umumnya ada dua, yakni secara fisik dapat dilihat dengan pakaian hitam dan topi hitam, dan topi putih. Malim itu sendiri memiliki arti suci, yang diterjemahkan suci dari penglihatan, pendengaran, pikiran, dan jiwa raga. “Sesuai aliran kepercayaan yang kami anut, bahwa Malim itu menjalankan kepercayaan religiusnya dengan melaksanakan ritwal dengan menggunankan musik gochi dan diiringi sarune untuk memanjatkan doa kepada Debata Mulajadi nabolon,”terannya.
Ditambahkan Op Dongguk Siahaan bahwa ada pun jenis Parmalim yakni Parmalim partali-tali Nabottar dan pratali-tali nabirong. Partali-tali nabottar ada di Laguboti Huta Tinggi, dan Tanoh Datar Parbongoran. Golongan Raja Batak dari kaum Kristen, Muslim dan Budha lainnya bisa masuk si Raja Batak. Tapi kalau aliran kami ini tidak bisa masuk dari aliran lain kecuali aliran Malim itu sendiri, itu bedanya. Contoh Aliran Sisingamangaraja XII sampai kepada pengikutnya seperti kami ini. Aliran tangga-tangga kuasa dalam suatu golongan seperti partangiang, panuturi, Panitangi dan parbaringin. Namun dalam aliran kami sudah tidak ada yang sanggup untuk menjalankan tugas dari aliran parbaringin, namun di komunitas lain parbaringin itu ada. Sesuai ajaran Sisingamangaraja XII adat parmalim kami Si jangkon Uras menggunakan lambang Gantang (timbangan), yang artinya, tidak bisa menyogok dan di sogok.

Tahukan Anda Cerita Lagu BUTET?


Di Gua Nagatimbul Lagu Butet Diciptakan
Jason Gultom


Butet…Dipangunsian do amangmu ale butet..., namargurilla da mardarurat ale butet… Itulah penggalan lagu perjuangan yang cukup terkenal sampai saat ini. Namun tidak semua orang tahu bahwa lagu tersebut sudah mengalami pergesaran syair, dan tidak semua juga orang tahu kalau lagu itu diciptakan di Gua Nagar Timbul yang letaknya berada di tengah Hutan Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah. Guan itu lah yang pertama kali menjadi saksi berkumandangnya lagu BUTET.
Lantas bagimana sebenarnya isi sayir lagu Butet itu? Menurut pengakuan warga Nagatimbul dan juga warga Sitahuis sewaktu dijumpai METRO beberapa waktu lagu menjelaskan, bahwa syair asli lagu Butet itu adalah seperti berikut. “Butet…di Sitahuis do Amangmu ale Butet…damancentak hepeng Orita ale Butet…damancetak hepeng Orita ale Butet.
Memang sampai saat ini tidak diketahui siapa pencipta lagu tersebut, hal itu dibuktikan dalam sampul kaset atau lagu yang sering dinyanyikan pada saat menjelang kemerdekaan yang nama penciptanya ditulis NN. Namun menurut pengakuan warga Sitahuis dan Desa Nagatimbul bahwa lagu itu dinyanyikan br Tobing warga Sitahuis sewaktu menina bobokan borunya (Butet dalam bahasa batak).
“Menurut sejarah, bahwa lagu Butet itu dinyanyikan di Gua perjuangan yang terdapat di hutan Nagatimbul ini, dimana masyarakat Sitahuis dan Nagatimbul bersembunyi di gua tersebut, sementara kaum pria waktu itu berada di Sitahuis untuk berjaga-jaga dan sebagian ada yang mencetak uang ORITA (Oeang Republik Tapanoloe, yang merupakan ejaan lama). Dimana waktu itu tempat percetakan uang ORITA adalah di Sitahuis. Sewaktu putri br Tobing ini yang disebut Si Butet mau tidur ibunyapun menina bobokannya dengan lagu Butet,”aku sejumlah warga Desa Sitahuis dan Nagatimbul.
Masih seputar penjelasan warga, setelah Sitahuis dikuasi Belanda dan menjadikan Desa Sitiris yang masih satu Kecamatan dengan Sitahuis menjadi markas Belanda, percetakan uang Orita itupun dibakar sibontar mata (sebutan bagi Belanda) namun mesin cetak uang tersebut masih sempat diselamatkan dan dibawa kedalam gua perjuangan di hutan Nagatimbul. Aktivitas percetakan uangpun sempat berlanjut di gua tersebut, namun sangat disayangkan bahwa mesin cetak uang itu tidak diketahui dimana keberadaannya sekarang ini.
“Kami tidak tahu lagi kemana mesin cetak tersebut dibawa para pejuang kita dulu, hanya saja menurut sejarahnya di gua perjuangan yang berada di hutan Nagatimbul masih sempat dicetak uang ORITA sebagai alat tukar yang sah waktu itu. Makanya Belanda terus mengejar dan berusaha untuk mengambil percetakan tersebut. Namun sangat disayangkan mesin cetak itu sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadannya, apakah berhasil dibawa Belanda atau tidak,”aku Kepala Desa Nagatimbul R Pasaribu.
Awak koran inipun terus menelusuri tentang lokasi percetakan uang ORITA yang berada di Sitahuis yang saat ini sudah menjadi Kecamatan Sitahuis. Usaha METROpun tidak sia-sia, dimana lokasi percetakan tersebut berhasil ditemukan di rumah Andareas Aritonang. Menurut pengakuan Camat Sitahuis Joseph dan juga pemilik rumah yang berada dikawasan perkantoran Camat Sitahuis dan warga Sitahuis membenarkan bahwa di rumah Andareas Aritonang uang ORITA tersebut dicetak.
“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya ORITA, memang rumah ini sudah mengalami pemugaran namun hanya bagian depan saja, itupun kami jadikan sebagai warung, sedangkan pada bagian tengah rumah dan loteng rumah ini masih bawaan rumah dulu. Dan diruang tengah inilah uang tersebut dicetak,”aku T br Simatupang (Op Jesri) saat ditemui METRO dikediamannya di Sitahuis.
Lebih lanjut Op Jesri yang sudah berusia 81 tahun ini menuturkan, Belanda terus mencari dimana lokasi percetakan uang ORITA, karena dengan adanya uang ORITA, maka uang Belanda tidak berlaku waktu itu, akunya. Namun sangat disayangkan bahwa uang tersebut tidak adalagi dimiliki Op Jesri dan juga keluarganya.
“Memang dulu ada saya simpan, tapi saya tidak terfikir bahwa uang itu akan berarti nantinya, makanya keberadaan uang tersebut tidak terlampau kami pedulikan saat itu,”kata Op Jesri.
Op Jesri juga tidak mengingat lagi kapan uang tersebut dicetak di Sitahuis, demikian juga dengan warga sekitarnya, mereka hanya mengingat bahwa dirumah Andareas Aritonang uang ORITA dicetak, sedangkan dibagian depan rumah tersebut duluny ada gudang yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang percetakan dan juga peralatan perang pejuang Tapanuli dulunya.
Sekarang kawasan tersebut suda berdiri rumah tinggal penduduk, termasuk dilahan yang dulunya gudang sudah menjadi rumah penduduk, sedangkan dikawasan sekitarnya sudah berdiri kantor Camat Sitahuis. Warga juga berharap agar bukti-bukti sejarah yang masih tertinggal dapat dirawat dan dilestarikan, karena suatu saat hal itu menjadi bukti sejarah yang sangat berarti bagi generasi berikutnya, apalagi Propinsi Tapanuli sudah terwujud nantinya akan menjadi sejarah baru bagi Propinsi Tapanuli yang kita harapkan dapat segera terwujud, harap warga. (***)