Jumat, 15 Februari 2008

Uang Republik Tapanuli dan Mesin Cetaknya

Foto Mesin Cetak ORITA yang masih ada di Sibolga, Sumatera Utara

Mesin Cetak ORITA Itu Tinggal Kenangan
Catatan Jason Gultom Wartawan METRO TAPANULI
Ada kebanggan tersendiri bagi masyarakat Tapanuli, dimana pada masa keresidenan dahulu, wilayah Tapanuli sudah dipercaya pemerintah saat itu untuk mencetak mata uang sendiri, yang diberi nama ORITA (Oeang Repoeblik Tapanuloe). Munculnya kepermukaan tentang uang ORITA ini atas envestigasi Jason Gultom selaku wartawan harian METRO TAPANULI. Dimana waktu itu METRO TAPANULI memberitakan bukti-bukti sejarah perjuangan masyarakat Tapteng untuk melawan Belanda khususnya yang ada di Kecamatan Sitahuis dan Desa Nagatimbul Kabupaten Tapanuli Tengah , respon pembaca metro sangat antusias, hal itu dibuktikan dengan adanya laporan dari pembaca METRO tentang keberadaan mesin cetak uang ORITA sebagai mata uang Republik Tapanuli waktu itu. Salah seorang pembaca METRO TAPANULI, Bagdani Siregar (62) warga Pasar Belakang Kecamatan Sibolga Kota menghubungi Kantor METRO untuk memberitahukan bahwa mesin cetak ORITA masih ada dirumahnya. Mendapat informasi tersebut, awak METRO langsung turun kekediaman Bagdani.
Menurut penuturan Bagdani Siregar kepada METRO mengatakan, mesih cetak tersebut adalah milik sahabatnya Horas Siregar yang merupakan putra pemilik percetakan Philemon Bin Harun Siregar.
“Tahun 2004 lalu kami bersama Horas Siregara sudah sepakat kerjasama untuk membuka percetakan dengan menggunakan mesin cetak uag ORITA. Hanya saja waktu itu itu keadaan mesin cetak ini sudah tua jadi kecepatannya sudah berkurang dibandingkan dengan mesin cetak yang baru. Atas kesepakatan bersama kami putuskan untuk merememajakan mesin cetak tersebut dengan meminta bantuan dari Wali Kota saat itu. Hanya saja Wali Kota mengatakan, bahwa Pemko Sibolga tida memiliki museum untuk menyimpan mesin cetak tersebut,”akunya.
Karena usulan kami tidak diterima Wali Kota saat itu lanjut Bagdani, akhirnya kami mengajukan proposal ke Bank Indonesia Sibolga. Saat itu pihak Bank Indonesia besedia dan sudah turun ke tempat ini untuk melakukan pengecekan dan mengambil foto mesin cetak tersebut, Pihak BI waktu itu berjanji akan berusaha membantu. Namun setelah ditunggu sekain lama tidak ada hasil, dan akhirnya teman saya Horas Siregar berangkat ke Jakarta langsung ke Bank Indonesia. Menurut keterangan BI Jakarta, harus ada klise uang ORITA sebagai bukti bahwa mesin tersebut pernah mencetak uang ORITA. Padahal waktu itu klise uang ORITA terbuat dari serat kayu dan itu tidak bisa lagi ditemukan. Sejak itulah teman saya Horas Siregar tidak pulang lagi ke Sibolga ini sampai sekarang.
“Karena tidak ada kepastian, akhirnya mesin cetak ini dititip kepada saya sampai sekarang, karena saya memiliki gudang yang lumayan lebar sehingga bisa menyimpan alat-alat mesin percetakan,”terangnya.
Lebih lanjut dikatakan Bagdani, setelah membaca berita METRO tentang tulisan uang ORITA saya langsung teringat dan tentang keberadaan mesin cetak ini, makanya saya langsung menhubungi METRO, agar masyarakat tahu dan juga pemerintah bisa memberikan perhatian akan keberadaan mesin cetak yang memiliki sejarah berharga ini.
“Sebenarnya saya tidak tahu banyak tentang keberadaan mesin cetak uang ini, karena yang mengetahui sejarah tersebut adalah orangtua teman saya, Bapak Philemon Siregar, karena merekalan pertama kali yang memiliki percetakan di Sibolga ini. Karena tidak ada yang memperdulikan, mesin cetak ini kamipun menyimpannya begitu saja di gudang ini,”akunya.
Hasil amatan METRO mesin pencetak uang ORITA ini masih tampak bagus, hanya saja sudah banyak pelaratannya yang berkarat. Mesin cetak tersebut terdidi dari tiga bagian, dan ketigany masih tersimpan digudang milik Bagdani Siregar. Sedangkan uang ORITA hasil cetakan mesin tersebut masih ada tertinggal disana sebagai barang bukti, yaitu uang pecahan 500rupiah yang dicetak pada tanggal 5 Januari 1947-1949 nomor seri 45917. Sedangkan pada bagian mesin cetak tedapat tulisan The Chandler and price co Cleveland, ohic USA.
Selain uang pecahan 500 rupiah juga terdapat pecahan uang satu rupiah yang dicetak pada tanggal 25 September 1947, dengan bukti surat keterangan dari Keresidaenan Tapanoeli.
Kepada METRO Bagdani Siregar mengharapkan, agar pemerintah khususnya Pemkab Tapteng dapat memperhatikan keberadaan mesin cetak tersebut, karena jasa mesin tersebut telah dirasakan masyarakat Tapanuli pada masa penjajahan. Selain itu percetakan uang ORITA berlangsung dulunya di Sitahuis, dan itu merupakan bagian wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Kami berharap agar Pemkab Tapteng menanggapi keberadaan mesin cetak uang ORITA ini sehingga tidak terlantar seperti sekarang ini, karena mesin cetak ini sudah permah memerima pengharagaan berupa piagam dari menteri Pariwisata RI yang menyatakan mesin ini adalah mesin pencetak uang ORITA,”harapnya.